PenaKu.ID – Sejauh mata memandang, hamparan perbukitan hijau Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menyuguhkan simfoni alam yang menenangkan. Udara pegunungan yang sejuk dan asri langsung menyergap siapa saja yang menginjakkan kaki di desa ini. Namun, di balik lambaian rimbunnya pohon bambu dan tenangnya kehidupan pedesaan, tersimpan sebuah gerbang waktu yang siap membawa Anda melintasi jutaan tahun ke masa silam: Goa Cigintung.
Goa Cigintung bukanlah sekadar ceruk batu biasa. Tersembunyi di bawah lahan perkebunan warga seluas satu hektare yang teduh, goa ini menjadi saksi bisu bahwa daratan Jampang Selatan dahulunya adalah lautan purba yang megah. Di sinilah, raksasa penguasa samudra masa lalu, hiu purba Megalodon, meninggalkan jejak-jejak terakhirnya.
Goa Cigintung Menjelajah Lorong Waktu yang Asri
Memasuki kawasan goa, gemerisik daun dari jajaran pohon kayu keras berpadu dengan udara sejuk yang berembus dari mulut goa setinggi 2 hingga 3 meter. Petualangan sesungguhnya dimulai saat Anda melangkah ke dalam keheningan goa yang memiliki kedalaman hingga 30 meter ini.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Gunungsungging, Eli Yulianti, membisikkan sebuah misteri yang hingga kini masih mengundang penasaran para penjelajah.
“Di dalam Goa Cigintung ini, terdapat sebuah lorong sempit yang diyakini menembus langsung ke Goa Gunungsungging. Ukurannya terlalu mungil untuk dilewati manusia, menjadikannya sebuah teka-teki alam yang sangat menarik untuk diteliti,” ujar Eli penuh antusias.
Goa Cigintung: Dari “Huntu Gelap” hingga Edukasi Dunia Purba
Daya tarik Goa Cigintung kian memikat berkat balutan kearifan lokal masyarakat setempat. Jauh sebelum para peneliti dunia datang untuk berburu fosil gigi Megalodon, masyarakat penunggu bukit purba ini sudah akrab dengan temuan-temuan fosil raksasa tersebut. Mereka menyebutnya “Huntu Gelap” (Gigi Petir).
Dalam memori kolektif warga, Huntu Gelap bukanlah komoditas ekonomi, melainkan benda magis yang dihormati. Konon, orang tua zaman dulu menggunakannya sebagai palakiah—benda spiritual penolak bala untuk melindungi hewan ternak dari wabah penyakit. Sikap hormat masyarakat tempo dulu ini tanpa disadari telah menjadi benteng konservasi alami yang menjaga kekayaan geologi desa tetap utuh.
Goa Cigintung Destinasi Sempurna untuk Jiwa yang Haus Petualangan
Kini, Desa Gunungsungging bersolek tanpa kehilangan jati dirinya yang asri. Goa Cigintung mulai bertransformasi menjadi destinasi wisata edukasi (wisata dinosaurus/geologi) yang menjanjikan. Tempat ini menawarkan paket lengkap: kesegaran alam pedesaan yang menepis penat, keramahan warga, sekaligus ilmu pengetahuan tentang sejarah bumi yang menakjubkan.
“Harapan kami ke depan, Goa Cigintung bisa menjadi sarana edukasi utama bagi wisatawan untuk mengenal sejarah Megalodon dan kekayaan alam Gunungsungging,” pungkas Eli.**
