PenaKu.ID – Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Samman Al-Madani (lahir 1718, wafat 1775) bukan sekadar ulama biasa. Beliau adalah tokoh sufi agung yang dikenal sebagai Al-Qutb al-Rabbani dan Gauts Zaman.
Sebagai pendiri Tarekat Sammaniyyah, pengaruh spiritualnya melintasi batas geografis, merambah hingga ke Afrika Utara dan Asia Tenggara.
Jejak Spiritual dan Jaringan Keilmuan Syekh Samman Al-Madani
Beliau merupakan sosok yang mendidik banyak ulama besar dunia. Salah satu muridnya yang paling masyhur dari Nusantara adalah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan).
Kedalaman ilmu tauhid, fikih mazhab Syafi’i, dan tasawuf yang beliau miliki menjadikannya mercusuar ilmu pengetahuan pada masanya. Hingga kini, amalan seperti Ratib Samman dan manakib beliau masih terus dilestarikan oleh umat Islam.
Karamah dan Warisan Abadi Syekh Samman Al-Madani
Banyak riwayat menyebutkan tentang ketinggian maqam kewalian beliau. Salah satu yang paling dikenal adalah karamah beliau yang mendapatkan hak memberi syafaat bagi 70.000 umat untuk masuk surga tanpa hisab.
Neski telah wafat dan dimakamkan di pemakaman bersejarah Baqi, Madinah, warisan spiritual berupa pendidikan akhlak dan metode zikir yang beliau ajarkan tetap hidup subur di tengah masyarakat, termasuk di Kalimantan Selatan. Beliau tetap menjadi teladan utama bagi mereka yang meniti jalan tasawuf hingga detik ini.**











