PenaKu.ID – Sahur kerap dipahami sebagai aktivitas makan dan minum sebelum fajar untuk menjalankan ibadah puasa. Namun dalam ajaran Islam, sahur memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi dari sekadar persiapan fisik. Sahur mengandung nilai ibadah, keberkahan, serta menjadi salah satu waktu terbaik untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Keutamaan sahur ditegaskan dalam Al-qur’an dan hadis Nabi Muhammad ﷺ. Karena itu, para ulama menilai sahur sebagai amalan yang sarat nilai spiritual, meski tidak menjadi syarat sahnya puasa.
Sahur, Sunnah yang Sangat Dianjurkan
Rasulullah ﷺ secara jelas menganjurkan umat Islam untuk melaksanakan sahur. Dalam hadis sahih, beliau bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur terdapat keberkahan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menjadi landasan utama bahwa sahur bukan sekadar kebiasaan, melainkan sunnah yang memiliki keutamaan. Meski puasa tetap sah tanpa sahur, para ulama menyebut sahur sebagai sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan, baik dari sisi kesehatan maupun ibadah.
Tidak Ada Doa Sahur Khusus, Namun Dianjurkan Memperbanyak Doa
Dalam kajian fikih dan hadis, tidak ditemukan lafaz doa sahur khusus yang secara eksplisit diajarkan Rasulullah ﷺ. Kendati demikian, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa, dzikir, dan istighfar saat sahur.
Anjuran ini sejalan dengan firman Allah SWT yang menggambarkan ciri orang-orang bertakwa:
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun (kepada Allah).”
(QS. Az-Zariyat: 18)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa waktu sahur merupakan saat yang mulia untuk bermunajat dan memohon ampunan kepada Allah SWT.
Doa Rasulullah bagi Orang yang Bersahur
Keistimewaan sahur juga tercermin dari doa Rasulullah ﷺ bagi mereka yang menjalankannya. Dalam sejumlah riwayat disebutkan, Nabi ﷺ bersabda:
يَرْحَمُ اللَّهُ الْمُتَسَحِّرِينَ
“Semoga Allah merahmati orang-orang yang bersahur.”
Doa ini menegaskan bahwa sahur bukan hanya aktivitas rutin, melainkan amalan yang mendatangkan rahmat dan kasih sayang Allah SWT.
Waktu Sahur untuk Meneguhkan Niat Puasa
Selain berdoa, waktu sahur kerap dimanfaatkan untuk meneguhkan niat puasa. Secara syariat, niat puasa wajib ditanamkan di dalam hati sebelum terbit fajar. Lafaz niat yang umum dibaca oleh umat Islam adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
“Aku berniat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa Ramadan karena Allah Ta’ala.”
Para ulama menegaskan bahwa niat tidak harus dilafalkan. Yang terpenting adalah adanya ketetapan hati untuk menjalankan ibadah puasa.
Sahur, Waktu Mustajab untuk Berdoa
Keutamaan sahur semakin besar karena waktunya bertepatan dengan sepertiga malam terakhir, yang dikenal sebagai waktu mustajab untuk berdoa. Dalam hadis qudsi, Rasulullah ﷺ menyampaikan firman Allah SWT:
“Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, para ulama menganjurkan agar sahur tidak hanya diisi dengan makan dan minum, tetapi juga dengan doa, dzikir, dan istighfar.
Sahur merupakan bagian penting dari ibadah puasa yang mengandung banyak keutamaan. Meski tidak terdapat doa sahur khusus yang diwajibkan, umat Islam dianjurkan memanfaatkan waktu ini untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan sahur, puasa tidak hanya menjadi aktivitas menahan lapar dan haus, tetapi juga sarana meningkatkan ketakwaan serta kualitas spiritual seorang Muslim.** (tds)
