Kesehatan

Kacang Bogor, Camilan Tradisional dengan Segudang Manfaat

Kacang Bogor, Camilan Tradisional dengan Segudang Manfaat
Kacang Bogor, Camilan Tradisional dengan Segudang Manfaat (Foto: Istimewa)

PenaKu.ID – Di balik tampilannya yang sederhana, kacang Bogor (Vigna subterranea) ternyata menyimpan manfaat kesehatan sekaligus peluang ekonomi yang kian menjanjikan. Tak hanya hadir sebagai camilan khas, komoditas ini kini dibidik sebagai produk potensial untuk menembus pasar ekspor.

Kandungan Gizi Kacang Bogor

Peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengungkapkan, kacang Bogor memiliki kandungan protein nabati cukup tinggi, yakni 16–21 persen pada biji kering. Angka ini menjadikannya salah satu sumber protein alternatif di tengah tren pengurangan konsumsi daging merah. Selain itu, kacang ini juga mengandung karbohidrat, serat, kalsium, fosfor, hingga zat besi.

“Kombinasi nutrisi tersebut berperan penting dalam menjaga energi, kesehatan tulang, serta metabolisme tubuh,” jelas seorang ahli gizi IPB.

Dalam 100 gram kacang Bogor rebus, terkandung sekitar 160 kalori, 7,7 gram protein, dan 2,8 gram lemak. Namun, ketika digoreng, jumlah kalorinya bisa melonjak hingga dua kali lipat. Karena itu, konsumsi dalam bentuk rebus atau panggang lebih disarankan agar manfaat gizinya tetap optimal tanpa tambahan lemak jenuh.

Dari sisi agronomis, tanaman ini dikenal tangguh karena mampu tumbuh di tanah kurang subur serta tahan kekeringan. Kacang Bogor kini mulai dikembangkan sebagai bahan baku tepung, isolat protein, hingga pangan fungsional.

Pasar Domestik dan Potensi Ekspor

Data terbaru mencatat, produksi kacang Bogor di Indonesia pada 2021 mencapai sekitar 1,2 juta ton, menjadikan negeri ini salah satu penghasil terbesar di dunia untuk jenis kacang tersebut (Narareba).

Sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina sudah masuk dalam daftar tujuan ekspor. Lebih jauh, telaah pasar menunjukkan potensi ekspor kacang polong Indonesia mencapai nilai signifikan, antara lain: Singapura USD 904 ribu (sekitar Rp13,8 miliar), Amerika Serikat USD 208 ribu (Rp3,2 miliar), serta Inggris USD 179 ribu (Rp2,7 miliar) (UkmIndonesia).

Meski belum sepenuhnya tergarap, peluang ekspor kacang Bogor terbuka lebar. Di dalam negeri, komoditas ini juga menggerakkan ekonomi lokal, mulai dari produksi, pengolahan, hingga pemasaran. Ribuan keluarga, terutama pengusaha kecil perempuan, menggantungkan hidup dari industri rumahan berbasis kacang Bogor. Tak jarang, produk olahannya turut dijadikan oleh-oleh khas Bogor yang sarat nilai budaya (Green Shield Certified).

Tantangan dan Strategi Pengembangan Kacang Bogor

Meski prospeknya cerah, ekspor kacang Bogor masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya persaingan ketat di pasar global, standar kualitas yang tinggi seperti sertifikasi halal, GMP, dan ISO, hingga persoalan logistik dan pasokan yang stabil untuk menjaga mutu produk (Jangkar Global Groups).

Untuk menjawab tantangan tersebut, sejumlah strategi disarankan, antara lain: meningkatkan kualitas dan standar produksi, memperluas jaringan pemasaran internasional—khususnya ke negara-negara dengan permintaan tinggi—serta menjaga ketersediaan pasokan melalui peningkatan produksi dan diversifikasi produk.

Menuju Panggung Global

Dengan kandungan gizi melimpah, ketahanan agronomis, serta potensi diversifikasi produk—mulai dari tepung hingga camilan fungsional—kacang Bogor berpeluang besar melampaui statusnya sebagai camilan tradisional. Jika strategi pengembangan berjalan konsisten, komoditas lokal ini berpotensi menjadi pemain penting dalam industri pangan fungsional Indonesia sekaligus bersaing di pasar global.**

Exit mobile version