PenaKu.ID – Iran mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu rute energi paling vital di dunia.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa kesepakatan tersebut kini memasuki tahap akhir. Informasi ini dikutip dari BBC pada 6 Agustus 2026.
Meski demikian, Baqaei menegaskan bahwa kesepakatan tersebut belum otomatis menjamin keamanan pelayaran. Menurutnya, situasi di kawasan masih dipengaruhi blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sehingga risiko keamanan tetap tinggi.
Kesepakatan Jalur Baru Selat Hormuz Masih Bersifat Sementara
Baqaei menjelaskan bahwa koordinat geografis jalur pelayaran baru telah disepakati bersama Oman. Namun, rincian teknis mengenai rute tersebut belum dipublikasikan.
Dikutip dari media pemerintah Iran, IRNA, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyebut jalur baru itu bersifat sementara dengan masa operasional sekitar dua hingga empat bulan.
Di sisi lain, Amerika Serikat maupun Oman belum memberikan pernyataan resmi terkait proposal tersebut.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur sekitar 20 persen distribusi minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Sejak konflik bersenjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel meningkat pada Februari 2026, lalu lintas kapal di kawasan itu mengalami gangguan signifikan.
Perbedaan Kepentingan Masih Membayangi Negosiasi di Selat Hormuz
Perselisihan utama antara Teheran dan Washington juga belum terselesaikan. Iran disebut menginginkan biaya lintas kapal sebesar 5 hingga 7 persen dari nilai muatan, sementara Oman mengusulkan sekitar 3 persen dan Amerika Serikat menolak adanya pungutan tersebut.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa memperingatkan Iran akan menerima respons keras apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.
Meski harga minyak Brent sempat turun sekitar 0,3 persen menjadi US$79,24 per barel pada perdagangan Asia, pasar energi global masih mencermati perkembangan negosiasi tersebut.
Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat sempat menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Juni 2026 untuk menghentikan konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.
Namun, kesepakatan itu gagal dipertahankan setelah aksi saling serang kembali terjadi beberapa hari kemudian, sebagaimana dikutip dari BBC.**
