PenaKu.ID – Sebuah rumah milik warga di Kampung Pos Kulon, RT 02/RW 04, Desa Kertamulya, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, rusak parah setelah diterjang hujan lebat disertai angin kencang, Jumat (3/4/2026).
Pemilik rumah, Endang (54), mengatakan cuaca ekstrem sudah melanda wilayah tersebut sejak Kamis (2/4/2026) malam. Kondisi memburuk pada Jumat dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, ketika angin kencang mulai menggeser atap genteng rumahnya.
“Sekitar jam 03.00 WIB atap genteng mulai bergeser karena angin. Lalu, pada pagi harinya sekitar pukul 09.00 WIB, atap itu langsung ambruk,” ujar Endang saat ditemui di lokasi, Sabtu (4/4/2026).
Ia menyebut, kondisi atap yang sudah lapuk turut memperparah kerusakan. Material bangunan berupa genteng dan kayu yang runtuh menutup sebagian kamar tidur serta ruang makan.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Saat kejadian berlangsung, rumah dalam keadaan kosong karena seluruh anggota keluarga sedang berada di luar.
“Saat itu saya sedang mengambil kopi. Begitu melihat ke kamar, ternyata sudah ambruk dan kasur tertutup material kayu. Syukurnya tidak ada orang di dalam rumah,” tuturnya.
Akibat kejadian tersebut, kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. Rumah berukuran 5×8 meter itu dihuni dua kepala keluarga dengan total lima jiwa.
Belum Tersentuh Rutilahu Pemkab Bandung Barat
Endang mengungkapkan, dirinya sebelumnya telah mengajukan bantuan program rumah tidak layak huni (rutilahu) kepada pemerintah desa di Bandung Barat. Namun hingga kini, bantuan tersebut belum terealisasi.
“Saya sudah mengajukan rutilahu karena kondisi atap memang sudah bolong dan rusak. Tapi belum ada realisasi sampai akhirnya ambruk,” katanya.
Saat ini, Endang bersama keluarganya terpaksa mengungsi ke rumah kerabat. Kondisi rumah dinilai tidak aman untuk ditempati, sementara bagian atap yang rusak hanya ditutup terpal guna mencegah kerusakan lebih lanjut.
“Kami sementara mengungsi ke rumah saudara karena khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.
Warga Bandung Barat yang sehari-hari bekerja sebagai penarik sampah itu mengaku kesulitan untuk memperbaiki rumah secara mandiri. Ia menyebut penghasilannya tidak mencukupi untuk kebutuhan tersebut.
“Sekali narik sampah dapat sekitar Rp150 ribu, itu juga hanya dua kali dalam seminggu. Untuk makan saja pas-pasan,” ungkapnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bandung Barat segera merealisasikan bantuan rutilahu, agar dirinya dan warga lain dengan kondisi serupa bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak.
Bagaimana Tanggapan Ketua RT di Bandung Barat?
Sementara itu, Ketua RW 04, Tedi Ridwan, mengatakan pihaknya telah melaporkan kejadian tersebut kepada Pemerintah Desa Kertamulya. Ia menyebut pengajuan bantuan rutilahu sebenarnya sudah dilakukan sebelumnya.
“Pengajuan sudah ada, tetapi memang masih terkendala regulasi dan keterbatasan anggaran,” kata Tedi.
Menurutnya, terdapat tiga rumah warga di wilayahnya yang kondisinya memprihatinkan dan telah diusulkan dalam program rutilahu. Namun, realisasi bantuan masih menunggu keputusan pemerintah.
“Ada wacana swadaya dari warga, tetapi kami khawatir memicu kecemburuan sosial karena masih ada rumah lain yang juga membutuhkan bantuan,” jelasnya.
Hingga saat ini, pihak RW masih menunggu tindak lanjut dari pemerintah desa, kecamatan, hingga pemerintah kabupaten.
“Mudah-mudahan segera ada realisasi, bukan hanya untuk Pak Endang, tetapi juga warga lain yang rumahnya sudah hampir ambruk,” pungkasnya.**
