PenaKu.ID – Minat masyarakat terhadap obat herbal sebagai pendamping untuk membantu menurunkan kadar kolesterol atau lipid terus meningkat. Namun, lembaga kesehatan dan peneliti internasional mengingatkan bahwa tidak semua produk herbal memiliki manfaat yang telah dibuktikan melalui uji klinis.
Kajian dari U.S. National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH) bersama sejumlah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional menunjukkan hanya beberapa bahan alami yang memiliki bukti ilmiah cukup kuat dalam membantu mengendalikan lipid. Sementara itu, berbagai herbal lain masih memerlukan penelitian lebih lanjut sebelum dapat direkomendasikan.
Red Yeast Rice Masih Menjadi Herbal Terbaik Kurangi Kolesterol
Salah satu herbal yang paling banyak diteliti adalah Red Yeast Rice atau beras ragi merah. Bahan ini merupakan hasil fermentasi beras menggunakan jamur Monascus purpureus yang mengandung monacolin K, senyawa dengan struktur kimia yang sama seperti lovastatin, obat yang umum digunakan untuk menurunkan lipid.
Sejumlah uji klinis menunjukkan Red Yeast Rice mampu membantu menurunkan kadar kolesterol total maupun kolesterol LDL (low-density lipoprotein) atau kolesterol “jahat”. Meski demikian, para peneliti menemukan kandungan monacolin K pada produk yang beredar di pasaran tidak selalu sama sehingga efektivitasnya dapat berbeda-beda.
Risiko Efek Samping Perlu Menjadi Perhatian
Penggunaan Red Yeast Rice juga tidak lepas dari risiko. Efek samping yang dapat muncul serupa dengan obat golongan statin, seperti nyeri otot, peningkatan enzim hati, hingga kemungkinan berinteraksi dengan obat lain.
Selain itu, beberapa produk pernah ditemukan mengandung citrinin, senyawa beracun yang berpotensi merusak ginjal apabila dikonsumsi dalam jumlah tertentu.
Bawang Putih dan Flaxseed Berpotensi Membantu Menurunkan LDL
Selain Red Yeast Rice, bawang putih (Allium sativum) juga menjadi salah satu herbal yang cukup banyak diteliti. Analisis gabungan dari berbagai uji klinis menunjukkan konsumsi suplemen bawang putih secara rutin selama lebih dari dua bulan dapat membantu menurunkan kadar kolesterol total dan LDL.
Namun, besarnya penurunan kolesterol dinilai masih relatif kecil dibandingkan terapi menggunakan obat statin. Di sisi lain, bawang putih umumnya aman dikonsumsi, meskipun dapat menyebabkan gangguan pencernaan, bau napas yang menyengat, serta meningkatkan risiko perdarahan apabila digunakan bersamaan dengan obat pengencer darah.
Bahan alami lain yang memiliki dukungan bukti ilmiah cukup baik ialah flaxseed atau biji rami. Kandungan serat larut, lignan, dan asam lemak omega-3 nabati di dalamnya diyakini berperan dalam membantu menurunkan kadar kolesterol LDL, terutama pada orang dengan kolesterol tinggi.
Penelitian juga menunjukkan manfaat tersebut lebih banyak diperoleh dari konsumsi biji rami utuh maupun yang telah digiling dibandingkan minyak flaxseed.
Plant Sterols Didukung Berbagai Pedoman Nutrisi Internasional
Selain herbal tradisional, plant sterols dan plant stanols termasuk komponen alami yang memiliki dukungan bukti ilmiah paling kuat.
Senyawa yang berasal dari tumbuhan ini bekerja dengan menghambat penyerapan kolesterol di saluran pencernaan sehingga membantu menurunkan kadar LDL. Berbagai pedoman nutrisi internasional juga memasukkan sterol dan stanol sebagai bagian dari strategi pengelolaan kolesterol melalui pola makan.
Sementara itu, hasil penelitian mengenai teh hijau masih menunjukkan temuan yang beragam. Kandungan katekin di dalamnya diduga berperan dalam metabolisme lemak, tetapi efek penurunan kolesterol yang dilaporkan hingga kini masih relatif kecil dan belum konsisten pada berbagai penelitian.
Herbal Lain Belum Memiliki Bukti Ilmiah yang Memadai
Para ahli juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap klaim manfaat sejumlah herbal lain, seperti bergamot, hibiscus, artichoke, guggul, policosanol, chromium, selenium, maupun koenzim Q10.
Walaupun beberapa penelitian memberikan hasil yang menjanjikan, bukti ilmiah yang tersedia saat ini dinilai belum cukup kuat untuk merekomendasikannya sebagai terapi penurun kolesterol.
NCCIH menegaskan bahwa suplemen herbal tidak seharusnya digunakan sebagai pengganti pengobatan yang diresepkan tenaga medis. Pengendalian kolesterol tetap mengutamakan perubahan gaya hidup, antara lain mengurangi konsumsi lemak jenuh, memperbanyak asupan serat, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, serta menghentikan kebiasaan merokok.
Karena itu, penggunaan herbal dapat dipertimbangkan sebagai terapi pendamping apabila didukung bukti ilmiah dan telah dikonsultasikan dengan dokter, terutama bagi pasien yang sedang mengonsumsi obat penurun kolesterol atau memiliki penyakit penyerta. Pendekatan tersebut dinilai lebih aman sekaligus membantu mengoptimalkan upaya menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang.** (tds)
