PenaKu.ID – Suara dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya sempat menimbulkan dugaan berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan fenomena tersebut tidak berasal dari letusan Gunung Anak Krakatau, dilansir dari Konferensi pers pada 5 September 2026.
Kesimpulan itu didasarkan pada analisis kondisi angin serta prinsip perambatan gelombang suara.
Ahli Meteorologi BMKG Mujahidin menjelaskan, angin di lapisan ketinggian 1,5 hingga 3 kilometer saat kejadian bergerak konsisten dari tenggara menuju barat.
Kondisi tersebut membuat rambatan suara dari kawasan Selat Sunda tidak memungkinkan bergerak menuju Cekungan Bandung.
“Kondisi anginnya sendiri ini relatif cukup kencang. Arah pergerakan dari ketinggian 1,5 hingga 3 kilometer itu masih konsisten dari tenggara, sehingga pergerakannya itu mengarah ke arah barat,” ujar Mujahidin dalam konferensi pers, Sabtu, 5 September 2026.
Dentuman Misterius Bandung Raya dari Kecepatan Angin Capai 58 Kilometer per Jam
BMKG mencatat kecepatan angin pasat tenggara ketika dentuman terjadi berada pada kisaran 40 hingga 58 kilometer per jam.
Arah angin tersebut membuat material maupun suara dari wilayah Selat Sunda bergerak menjauh dari Jawa Barat.
Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Suaidi Ahadi, menyampaikan penjelasan serupa.
Menurutnya, secara fisika, dentuman yang benar-benar berasal dari aktivitas vulkanik tidak mungkin terdengar di Bandung dengan kondisi angin tersebut.
Keanehan Dentuman Misterius Bandung Raya
Keanehan lain muncul karena tidak ada laporan suara gemuruh dari wilayah yang secara geografis lebih dekat dengan Selat Sunda.
“Dentuman tersebut hanya terdengar di wilayah Bandung Raya dan sekitarnya. Tidak terdengar di Jakarta, Kota Bogor, maupun Banten dan sekitarnya. Ini yang menjadi fenomena yang sangat menarik,” kata Suaidi.
Dengan demikian, BMKG menegaskan dentuman tersebut bukan disebabkan letusan Gunung Anak Krakatau berdasarkan analisis meteorologi dan fisika.**
