PenaPendidikan
Trending

Demi Sinyal untuk Belajar Online, Rela Jalan 3 Km ke Bukit

PenaKu.ID – Bukit Watu Bhesi di Desa Anakoli, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT menjadi tempat perburuan baru bagi para siswa dan siswi yang tengah menjalani beljajar dalam jaringan (daring) karena adanya pandemi COVID_19, demi mengikuti pelajaran dari sekolah.

Anak-anak tersebut asik berada di gubuk kayu yang berukuran 2×2 meter itu dengan tujuan mendapatkan akses internet, meski harus melakukan perjalanan terlebih dahulu sejauh 3 kilo meter ke tempat ini.

Melansir ntt.siberindo, Desa Anakoli yang berbatasan langsung dengan Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa di huni 156 Kepala Keluarga. terdiri dari laki-laki 384 orang, dan perempuan 417 orang.

Di sana mereka tidak menikmati pemandangan. Mata mereka fokus ke layar ponsel Android.

Mereka mengulik kembali materi pelajaran dari sekolah melalui internet dengan mengutak-atik ponsel android di atas perbukitan itu.

Sesekali handphone yang digenggam oleh jari-jari mungil itu diangkat, digeser, diarahkan untuk mencari posisi sinyal terbaik.

Untuk sampai kesana, anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas itu harus berjalan kaki dari Kampung Anakoli menuju Bukit Watu Bhesi itu kurang lebih 3 KM.

Perjuangan itu harus mereka lalui untuk mendapatkan sinyal yang lebih baik guna belajar online.

Tak seperti halnya pelajar di perkotaan yang justru lebih diuntungkan dengan kebijakan belajar di rumah secara online, siswa-siswi di pedesaan di wilayah Kecamatan Wolowae ini malahan harus dipusingkan dengan persoalan akses internet.

Belajar online praktis menambah beban psikis bagi mereka lantaran begitu sulitnya berburu sinyal internet.

Di tengah semilir angin perbukitan, sejumlah siswa baik dari tingkat SMP maupun SMA itu terlihat serius memelototi handphone sembari belajar.

Seperti halnya Vera Biabi, salah seorang pelajar SMA disalah satu Sekolah di Nagekeo di kepada media ini Rabu (10/3) pagi mengatakan belajar daring sangat menyulitkan baginya.

Berbagai kendala tentu dialami oleh para pelajar di desanya seperti keterbatasan internet menjadi kendala utama belajar secara daring.

Dikatakan untuk mendapatkan akses internet, dirinya bersama teman-teman harus berjuang mencari sinyal internet di pembuktian.

Selain kesulitan jaringan internet tambah Vera, materi pembelajaran yang diberikan tidak mudah di pahami oleh mereka.

Vera menilai materi pelajaran diberikan langsung oleh para guru di sekolah lebih mudah dipahami daripada belajar sendiri oleh mereka.

Sementara Kepala Desa Anakoli, Yoseph Laka membenarkan hal itu. Ia mengatakan Desa Anakoli sudah lama merindukan jaringan internet yang memadai. Karena dirinya juga merasakan sulit saat mengirim laporan yang menggunakan laporan ke dinas.

“Di bukit watu bhesi itu bukan hanya anak sekolah yang cari internet. Tapi saya juga kalau mau kirim laporan atau data ke dinas yang menggunakan jaringan internet harus lari kesana baru bisa kirim,” ujarnya.

Kades Anakoli berharap pemerintah bisa memfasilitasi jaringan telekomunikasi di desanya menyusul saat pandemi virus corona.

Tentunya, dampak buruk nihilnya sinyal internet ini tak hanya dirasakan oleh para pelajar, tapi juga seluruh warga Desa Anakoli.

“Kasihan anak-anak menjadi kesulitan belajar. Apalagi pelajar SMA yang lebih banyak tugasnya. Pun demikian aparat desa atau guru-guru yang mau mengirim data harus kebingungan cari sinyal,” ungkapnya.

Dirinya mengaku sudah berupaya melaporkan ke Pemerintah Kabupaten Nagekeo untuk pengajuan pengadaan jaringan internet di desanya. Hanya saja, kata dia, hingga saat ini belum terealisasi.

“Pastinya kosongnya akses internet ini sangat mengganggu di tengah pandemi corona yang tak bisa kemana-mana. Apalagi anak-anak harus belajar online. Kami berharap pemerintah memperhatikan,” ujarnya.

**Redakasi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button