Pendidikan

Darurat ‘Konflik Diam’ di Sekolah; Mengapa Generasi Vokal Justru Memilih Bungkam Saat Dirundung!!

×

Darurat ‘Konflik Diam’ di Sekolah; Mengapa Generasi Vokal Justru Memilih Bungkam Saat Dirundung!!

Sebarkan artikel ini
Darurat 'Konflik Diam' di Sekolah; Mengapa Generasi Vokal Justru Memilih Bungkam Saat Dirundung!!
Sumber: Link Website mudabicara.id. Keterangan Gambar 'Ilustrasi'. (Riyan/PenaKu.ID).

PenaKu.ID – Di era digital, generasi muda dikenal sangat vokal dan berani menyuarakan pendapat di media sosial, namun kini fenomena ‘konflik diam’ sering terjadi di lingkungan sekolah.

Fakta mengejutkan terjadi di dunia nyata, lingkungan sekolah justru menjadi saksi bisu fenomena “konflik diam” (silent conflict), di mana siswa lebih memilih bungkam meski menghadapi tekanan, perundungan, hingga konflik dengan guru.

Darurat ‘Konflik Diam’ di Sekolah

Fenomena ini menjadi sorotan serius karena berdampak besar pada kondisi psikologis dan sosial siswa. Dalam perspektif Manajemen Konflik, sikap diam ini dikategorikan sebagai gaya avoidance (penghindaran). 

Merujuk pada teori Thomas dan Kilmann, individu cenderung menghindari konfrontasi karena merasa tidak memiliki kekuatan, takut akan konsekuensi, atau hilangnya kepercayaan bahwa keadilan bisa ditegakkan di lingkungan sekolah.

Data dan Tragedi Nyata

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, sepanjang tahun 2025 kasus kekerasan dan perundungan di lingkungan pendidikan mengalami peningkatan signifikan. 

Ratusan siswa menjadi korban, bahkan beberapa di antaranya berujung pada kematian. Tragisnya, banyak kasus baru terungkap setelah viral di media sosial, menandakan sekolah sering terlambat menyadari konflik yang sudah mengakar lama.

Contoh nyata terjadi di SMP Negeri 19 Tangerang Selatan, di mana seorang siswa meninggal dunia akibat kekerasan teman sekelasnya. Selain itu, kasus ekstrem di SMAN 72 Jakarta, di mana seorang siswa melakukan aksi berbahaya akibat tekanan emosi dan kesepian, menjadi bukti nyata bahwa konflik yang dipendam dapat meledak menjadi tindakan destruktif.

Paradoks Dunia Digital

Perkembangan teknologi turut menciptakan paradoks. Data menunjukkan sekitar 45% anak Indonesia pernah mengalami perundungan di ruang digital. 

Meski terlihat aktif dan berani di dunia maya, mereka justru memilih diam di dunia nyata karena merasa tertekan oleh hierarki kekuasaan dan norma sosial di sekolah. Media sosial pun akhirnya hanya menjadi ruang pelarian, bukan solusi.

Dampak dari konflik diam ini tidak bisa dianggap remeh. Secara psikologis, siswa berisiko mengalami stres, kecemasan, hingga depresi yang memengaruhi perkembangan kepribadian jangka panjang. Dalam kondisi paling ekstrem, hal ini dapat memicu tindakan bunuh diri atau kekerasan fisik.

Sekolah Harus Jadi Ruang Aman

Menyikapi hal ini, institusi pendidikan didesak untuk tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga menjadi ruang sosial yang aman dan inklusif. Guru dan tenaga pendidik perlu menciptakan lingkungan yang mendorong keterbukaan agar siswa merasa terlindungi saat bersuara.

Pendidikan manajemen konflik perlu diperkenalkan sejak dini. Siswa harus diajarkan bahwa konflik bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan dikelola secara konstruktif.

Jika pola komunikasi ini tidak segera dibenahi, “konflik diam” akan terus menjadi bom waktu yang mengancam masa depan generasi muda di tengah kemajuan teknologi yang kian pesat.***