PenaKu.ID – Kenaikan harga plastik terjadi di pasaran pada awal April 2026 dan mulai dirasakan pelaku usaha kecil di wilayah Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Lonjakan tersebut memicu keluhan pedagang karena berdampak langsung terhadap biaya operasional.
Sejumlah pedagang menyebut, kenaikan harga terjadi tak lama setelah Hari Raya Idulfitri 2026. Peningkatan harga ini diduga dipengaruhi faktor eksternal, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada pasokan bahan baku plastik secara global. Gangguan distribusi tersebut menyebabkan ketersediaan berkurang dan harga melonjak dari tingkat distributor hingga pedagang eceran.
Salsa (26), pedagang es teler di Padalarang, mengaku mulai merasakan kenaikan harga sejak awal April. Menurut dia, hampir seluruh jenis kemasan plastik mengalami kenaikan.
“Plastik kiloan naik, cup es teler juga naik. Sedotan boba hampir semua ikut naik,” ujar Salsa saat ditemui, Senin (6/4/2026).
Kondisi tersebut memaksanya menyesuaikan harga jual. Jika sebelumnya satu porsi es teler dibanderol Rp10.000, kini naik menjadi Rp12.000 per porsi.
“Mau tidak mau harga satu porsi es teler jadi Rp12.000,” katanya.
Hal senada disampaikan Hermansyah (46), pedagang grosir plastik. Ia menilai kenaikan harga ini memberi tekanan besar bagi pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada kemasan plastik.
“Kenaikan ini tentu memberatkan pedagang kecil, karena hampir semua komoditas menggunakan plastik sebagai kemasan,” ujarnya.
Berikut Harga Plastik di Pasar Tagog Bandung Barat:
Berdasarkan pantauan di pasaran per April 2026, harga plastik bervariasi tergantung jenis dan ukuran. Plastik kiloan (PE/PP/bening) berada di kisaran Rp19.000 hingga Rp22.000 per kilogram. Plastik kresek atau hitam dijual sekitar Rp15.000 hingga Rp25.000 per pak.
Sementara itu, plastik PE bening ukuran besar berkisar Rp20.000 hingga Rp59.000 per pack. Tali rafia dijual Rp23.000 hingga Rp25.000 per kilogram. Plastik PP roll dibanderol Rp14.000 hingga Rp112.000, tergantung ukuran. Gelas plastik berada di kisaran Rp23.000 hingga Rp55.000, sedangkan styrofoam dijual sekitar Rp35.000 hingga Rp55.000.
Hermansyah berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga plastik di pasaran.
“Kami berharap pemerintah segera menurunkan harga plastik. Sampai saat ini belum ada pihak pemerintah Bandung Barat yang turun langsung melihat kondisi di lapangan,” tegasnya.
Kenaikan harga plastik tidak hanya berdampak pada pedagang, tetapi juga berpotensi mendorong kenaikan harga berbagai produk konsumsi. Pasalnya, plastik merupakan komponen utama dalam pengemasan makanan, minuman, serta berbagai barang dagangan.
Jika kondisi ini berlanjut, daya beli masyarakat dikhawatirkan semakin tertekan di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih pasca Lebaran 2026.**











