PenaKu.ID – Kabupaten Garut Jawa Barat dikenal sebagai wilayah yang dikelilingi pegunungan dengan penamaan yang sarat makna. Salah satu yang kerap menarik perhatian publik adalah Gunung Ewe Randa, gunung dengan nama tak lazim yang sering memancing rasa ingin tahu, sekaligus memunculkan beragam tafsir. Di balik sebutannya, gunung ini menyimpan latar belakang sejarah dan budaya yang telah hidup lama dalam ingatan masyarakat setempat.
Gunung Ewe Randa, yang juga dikenal dengan nama Gunung Eweranda, terletak di Desa Mekarwangi, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Berdasarkan pendataan geografis puncak, gunung ini memiliki ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut, dan tergolong sebagai gunung kecil hingga menengah.
Asal-usul Nama Gunung Ewe Randa yang Kerap Disalahpahami
Nama “Ewe Randa” kerap dimaknai secara keliru oleh masyarakat di luar daerah. Anggapan tersebut muncul karena pemahaman harfiah yang tidak utuh terhadap konteks bahasa dan budaya Sunda. Padahal, menurut penuturan warga setempat dan kajian kebahasaan, penamaan ini tidak mengandung unsur vulgar.
Dalam bahasa Sunda, kata “ewe” merujuk pada perempuan, sementara “randa” berarti janda. Nama tersebut diyakini berasal dari kisah lisan tentang seorang perempuan janda yang pada masa lampau hidup mandiri dan bercocok tanam di kawasan gunung itu. Dari cerita tersebut, sebutan Ewe Randa kemudian melekat dan diwariskan secara turun-temurun.
Sejumlah budayawan lokal menjelaskan, penggunaan nama perempuan dalam penamaan wilayah bukanlah hal asing dalam tradisi Sunda. Penamaan semacam itu kerap digunakan sebagai simbol relasi manusia dengan alam atau sebagai bentuk penghormatan terhadap figur tertentu yang memiliki peran dalam sejarah lokal.
Cerita Rakyat dan Mitos Gunung Ewe Randa yang Hidup di Masyarakat
Selain asal-usul nama, Gunung Ewe Randa juga dikelilingi berbagai cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat. Kisah-kisah tersebut bersifat folklor dan tidak didukung bukti ilmiah, namun tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya setempat.
Salah satu legenda yang paling dikenal adalah cerita tentang sosok janda yang hidup menyendiri di lereng gunung, digambarkan sebagai perempuan yang tangguh dan mandiri. Cerita ini kerap dituturkan sebagai simbol ketahanan hidup serta keberanian perempuan dalam menghadapi tantangan.
Ada pula kepercayaan yang menyebut kawasan Gunung Ewe Randa memiliki nilai spiritual dan diyakini pernah digunakan sebagai lokasi ritual pada masa lalu. Sejumlah cerita lain menyebut keberadaan benda pusaka, punden berundak, hingga makhluk gaib. Namun hingga kini, klaim tersebut belum pernah dibuktikan melalui temuan arkeologis maupun kajian akademis.
Memahami Batas antara Fakta dan Legenda Gunung Ewe Randa
Para peneliti budaya menekankan pentingnya memisahkan antara fakta sejarah dan tradisi lisan. Cerita-cerita mistis yang berkembang di Gunung Ewe Randa sebaiknya dipahami sebagai bagian dari warisan budaya, bukan sebagai kebenaran historis.
Cerita rakyat memiliki fungsi penting dalam menjaga identitas budaya serta memperkuat ikatan sosial antargenerasi. Sementara secara faktual, Gunung Ewe Randa hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai kawasan pertanian dan perkebunan. Gunung ini juga belum memiliki status resmi sebagai destinasi wisata unggulan maupun kawasan cagar budaya.
Warisan Budaya di Balik Nama yang Mengundang Perhatian
Gunung Ewe Randa menjadi contoh bagaimana nama tempat, sejarah lokal, dan mitos dapat berpadu dalam kehidupan masyarakat pedesaan di Garut. Di balik namanya yang kerap memancing sensasi, gunung ini menyimpan kisah tentang bahasa, budaya, serta cara masyarakat Sunda memaknai alam sekitarnya.
Memahami Gunung Ewe Randa tidak cukup hanya melalui sudut pandang sensasional. Lebih dari itu, gunung ini merupakan bagian dari warisan budaya lokal yang perlu dipahami secara objektif dan dihargai secara proporsional.** (tds)
