PenaKu.ID – Konflik bersenjata kembali memanas di kawasan barat Iran. Pasukan militer Iran dilaporkan menjadi sasaran serangan mematikan yang dilancarkan oleh kelompok pemberontak Kurdi di wilayah perbatasan yang selama ini dikenal bergolak menentang rezim yang berkuasa.
Situasi ini semakin memperkeruh kondisi keamanan domestik di tengah eskalasi ketegangan geopolitik yang sedang dihadapi oleh pemerintah Teheran saat ini.
Kronologi Bentrokan Iran Berdarah di Marivan
Pada Minggu (2/8), bentrokan bersenjata pecah di dekat desa perbatasan Sianav, Kabupaten Marivan, Provinsi Kurdistan, Rojhelat. Sayap bersenjata Kurdistan Free Life Party (PJAK), yaitu East Kurdistan Defense Units (YRK), secara terbuka mengklaim bertanggung jawab penuh atas penyerangan mendadak terhadap pos militer pertahanan tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pangkalan Brigade Marivan ke-328 Angkatan Darat Iran diserang menggunakan amunisi berkeliaran atau loitering munitions yang berupa drone bermuatan bahan peledak serta tembakan granat berpeluncur roket sekitar pukul 03.00 waktu setempat.
Serangan malam itu menewaskan seorang prajurit bernama Abolfazl Goudarzi dan mengakibatkan satu tentara lainnya mengalami luka-luka serius hingga harus dilarikan ke fasilitas medis terdekat untuk segera mendapatkan penanganan darurat.
Aksi Balas Dendam dan Narasi Berbeda dalam Ketegangan Iran
Pihak PJAK menegaskan bahwa serangan mematikan itu dilakukan sebagai bentuk aksi balasan atas tewasnya tiga anggota dari satu keluarga Kurdi pada pekan sebelumnya di jalur wilayah Baneh-Marivan.
Ketiga korban jiwa tersebut meliputi seorang fotografer terkemuka bernama Mehdi Tavakoli, saudarinya Somayyeh Tavakoli yang berprofesi sebagai psikolog, serta ibu mereka, Maryam Aslani.
Sejumlah organisasi pemerhati hak asasi manusia menyebutkan bahwa para korban tewas akibat penembakan langsung oleh aparat keamanan di jalan raya.
Sebaliknya, pihak militer Iran memberikan versi berbeda dengan mengklaim bahwa ketiga warga tersebut merupakan anggota kelompok bersenjata yang tewas dalam insiden benturan fisik, kendati lembaga-lembaga independen membantah keras narasi pemerintah tersebut.**








