PenaKu.ID – Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Disarpusda) Kota Cimahi memperkuat pengelolaan perpustakaan sekolah sekaligus mendorong peningkatan budaya membaca melalui kegiatan tindak lanjut monitoring dan evaluasi (Monev). Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan sosialisasi Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) dan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), termasuk ajakan kepada warga untuk berpartisipasi dalam Survei TKM Kota Cimahi Tahun 2026.
Kegiatan ini diikuti para pengelola perpustakaan tingkat sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah ibtidaiyah (MI) se-Kota Cimahi. Sejumlah organisasi profesi, pegiat, dan komunitas literasi turut hadir untuk memperkuat kerja sama dalam membangun budaya membaca yang berkelanjutan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Disarpusda Kota Cimahi Dyah Ajuni Lukitosari, S.T., M.T., M.Sc., serta Kepala Bidang Perpustakaan Disarpusda Kota Cimahi Rusli Sudarmadi, S.I.P., M.M.P. Turut hadir Ketua ATPUSI Kota Cimahi, Ibu Eti dari SDN Padasuka Mandiri 2, Ketua Dewan Literasi Kota Cimahi (DLKC) Kang Sammy, Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kota Cimahi Bapak Febri, serta perwakilan Komunitas Hayu Maca, Mang Idon.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan literasi membutuhkan kolaborasi lintas lembaga. Pemerintah, sekolah, organisasi profesi, dan komunitas memiliki peran yang saling melengkapi dalam memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan dan bacaan.
Perpustakaan Sekolah Didorong Menjadi Ruang Belajar Aktif
Perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi menuntut perpustakaan sekolah untuk terus beradaptasi. Tidak cukup hanya menyediakan koleksi buku, perpustakaan juga perlu memiliki pengelolaan yang baik, layanan yang menarik, serta kegiatan yang mampu meningkatkan rasa ingin tahu peserta didik.
Kepala Disarpusda Kota Cimahi Dyah Ajuni Lukitosari menegaskan bahwa perpustakaan sekolah mempunyai peran strategis dalam menanamkan kebiasaan membaca sejak usia dini.
“Perpustakaan sekolah bukan hanya tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi harus menjadi ruang belajar yang hidup, menarik, dan mampu menjawab kebutuhan peserta didik. Karena itu, hasil monitoring dan evaluasi harus kita jadikan sebagai bahan untuk melakukan perbaikan dan penguatan secara berkelanjutan,” kata Dyah.
Menurutnya, hasil monitoring dan evaluasi perlu ditindaklanjuti melalui perbaikan yang berkesinambungan. Dengan demikian, perpustakaan dapat berkembang menjadi lingkungan belajar yang mendorong peserta didik untuk membaca, bertanya, berpikir kritis, dan memperluas wawasan.
Dyah juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam membangun ekosistem literasi yang saling terhubung. Pemerintah, sekolah, organisasi profesi, komunitas literasi, Forum TBM, dan para pegiat literasi diharapkan dapat berkontribusi sesuai dengan perannya masing-masing.
“Kita ingin membangun ekosistem literasi yang saling terhubung. Sekolah memiliki perpustakaan, masyarakat memiliki komunitas literasi, dan pemerintah hadir memberikan dukungan serta fasilitasi. Ketika semuanya bergerak bersama, dampaknya akan lebih besar terhadap budaya membaca masyarakat Kota Cimahi,” tambahnya.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuat kegiatan membaca semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Budaya literasi tidak hanya dibangun melalui kegiatan belajar di kelas, tetapi juga melalui lingkungan yang menyediakan akses bacaan, kesempatan belajar, dan pengalaman yang menyenangkan.
Monev Menjadi Dasar Perbaikan Pengelolaan Perpustakaan
Pengelolaan perpustakaan yang optimal memerlukan perencanaan, pelayanan yang aktif, serta evaluasi secara berkala. Karena itu, tindak lanjut monitoring dan evaluasi menjadi bagian penting dalam pembinaan perpustakaan sekolah.
Evaluasi tidak hanya berfungsi untuk mengidentifikasi kekurangan, tetapi juga menjadi dasar dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan menyusun program yang lebih bermanfaat bagi peserta didik.
Kepala Bidang Perpustakaan Disarpusda Kota Cimahi Rusli Sudarmadi menegaskan bahwa hasil Monev harus diterjemahkan menjadi langkah perbaikan yang nyata.
“Monev bukan sekadar menilai atau melihat kekurangan perpustakaan sekolah. Yang lebih penting adalah bagaimana hasil Monev tersebut kita tindak lanjuti menjadi langkah perbaikan. Kita ingin setiap perpustakaan sekolah memiliki pengelolaan yang semakin baik, layanan yang semakin aktif, dan program yang memberikan manfaat nyata bagi peserta didik,” ujar Rusli.
Melalui tindak lanjut tersebut, perpustakaan diharapkan tidak hanya berfokus pada pemenuhan fasilitas dan administrasi. Keberadaannya juga perlu mendukung proses pembelajaran serta membantu membentuk kebiasaan membaca di kalangan peserta didik.
Selain perbaikan pengelolaan, Rusli menyoroti pentingnya penggunaan data dalam merancang program literasi. Informasi mengenai Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) dan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dapat menjadi acuan untuk memahami kondisi literasi secara lebih terukur.
“Kita tidak bisa hanya menjalankan program berdasarkan asumsi. Kita membutuhkan data dan indikator yang dapat menggambarkan kondisi literasi masyarakat. Karena itu, pemahaman terhadap TKM dan IPLM menjadi penting, termasuk bagaimana perpustakaan sekolah dapat mengambil peran dalam membangun budaya gemar membaca,” jelasnya.
Dengan mengacu pada data dan indikator yang relevan, program literasi diharapkan dapat dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat. Pendekatan tersebut juga membuka peluang bagi perpustakaan untuk meningkatkan kualitas layanan dan memperluas manfaatnya secara berkelanjutan.
Disarpusda Kota Cimahi Sosialisasikan Survei TKM 2026
Sebagai bagian dari upaya memahami kebiasaan membaca masyarakat, Bidang Perpustakaan Disarpusda Kota Cimahi menyosialisasikan Survei Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Masyarakat Kota Cimahi Tahun 2026.
Survei tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi sekaligus acuan dalam merancang program pembudayaan kegemaran membaca dan pengembangan perpustakaan di Kota Cimahi.
Disarpusda mengajak masyarakat yang berdomisili di Kota Cimahi dan berusia minimal 15 tahun untuk berpartisipasi sebagai responden. Warga diharapkan mengisi kuesioner secara jujur dan objektif berdasarkan pengalaman masing-masing.
Masyarakat dapat mengakses kuesioner melalui tautan berikut:
Survei TKM Kota Cimahi Tahun 2026:
https://s.id/SurveyTKM2026
Partisipasi masyarakat diharapkan dapat membantu menghasilkan data yang representatif mengenai tingkat kegemaran membaca warga Kota Cimahi. Data tersebut selanjutnya dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun program literasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Pemahaman terhadap kebiasaan membaca menjadi langkah penting dalam menentukan arah pengembangan literasi. Dengan data yang memadai, program yang dirancang diharapkan lebih relevan, terarah, dan berkelanjutan.
Kolaborasi Komunitas untuk Memperluas Gerakan Literasi
Pengembangan literasi tidak hanya berlangsung di lingkungan pendidikan formal. Taman bacaan, komunitas membaca, diskusi, kegiatan kreatif, dan berbagai aktivitas edukatif juga dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk memperoleh pengetahuan.
Kehadiran ATPUSI, Dewan Literasi Kota Cimahi, Forum TBM, Komunitas Hayu Maca, unsur sekolah, serta berbagai pihak lainnya dalam kegiatan tersebut memperlihatkan pentingnya kolaborasi untuk memperluas gerakan literasi.
Sekolah berperan dalam menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini. Sementara itu, komunitas dapat menghadirkan kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Pemerintah berperan mendukung dan memfasilitasi agar berbagai inisiatif tersebut dapat berkembang.
Sinergi antarpihak diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya membaca. Dengan begitu, membaca tidak hanya dipandang sebagai bagian dari tugas sekolah, tetapi juga menjadi kebiasaan yang lahir dari kesadaran akan pentingnya pengetahuan dan pembelajaran sepanjang hayat.
Melalui tindak lanjut Monev, penguatan pengelolaan perpustakaan sekolah, sosialisasi TKM dan IPLM, serta Survei TKM 2026, Disarpusda Kota Cimahi terus mendorong pengembangan ekosistem literasi yang kolaboratif dan berkelanjutan.
Membangun masyarakat yang literat tidak cukup hanya dengan menambah koleksi buku atau menyediakan fasilitas perpustakaan. Upaya tersebut perlu disertai pelayanan yang berkualitas, ruang belajar yang aktif, komunitas yang berdaya, dan keterlibatan masyarakat.
Dari perpustakaan sekolah hingga komunitas di tengah masyarakat, setiap inisiatif memiliki peran dalam memperkuat budaya membaca. Ketika akses terhadap pengetahuan semakin terbuka, peluang masyarakat untuk belajar dan berkembang pun semakin besar.
Perpustakaan kuat, komunitas bergerak, literasi tumbuh, Kota Cimahi semakin literat.**











