Peristiwa

Dugaan Keracunan Massal di SMKN 1 Gunungguruh Sukabumi, 151 Siswa dan Guru Tumbang Usai Santap Menu MBG

×

Dugaan Keracunan Massal di SMKN 1 Gunungguruh Sukabumi, 151 Siswa dan Guru Tumbang Usai Santap Menu MBG

Sebarkan artikel ini
IMG 20261008 WA0048
Foto Istimewa: Situasi SMKN 1 Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Kamis (8/10/2026).

PenaKu.ID – Diduga akibat mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG), sebanyak 151 warga SMKN 1 Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, mengalami gejala keracunan massal. Korban terdiri dari 125 siswa dan 26 guru yang mengeluhkan mual, muntah, hingga diare secara bertahap sejak Jumat (2/10/2026).

Staf Humas SMKN 1 Gunungguruh, Anas Nasrudin, menjelaskan bahwa dugaan keracunan bermula dari konsumsi menu MBG pada Kamis (1/10/2026) berupa ayam woku. Kejadian berlanjut pada Jumat (2/10/2026) saat para siswa dan guru kembali mengonsumsi hidangan MBG berupa dimsum mentai, potato wedges, sayur kol, dan susu.

“Kondisinya banyak yang mengeluhkan awal di hari Jumat, berlanjut sampai Senin tidak masuk karena diare. Indikasinya dari makanan yang dikonsumsi dari MBG,” ujar Anas saat dikonfirmasi, Kamis (8/10/2026).

Pihak sekolah baru menyadari skala kejadian tersebut pada Senin (5/10/2026) setelah mencatat tingginya angka ketidakhadiran siswa dan guru akibat sakit. Sejumlah korban sempat menjalani perawatan di puskesmas, rumah sakit, serta isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Anas menambahkan, hasil pendataan internal mencatat 151 korban bergejala, meski angka riil diperkirakan bisa lebih tinggi karena ada kemungkinan korban yang tidak melapor.

Hingga Kamis (8/10/2026), mayoritas korban dilaporkan telah pulih dan kembali beraktivitas. Kendati demikian, pendataan kesiswaan mencatat setidaknya 12 siswa masih menjalani pemulihan akibat keluhan sakit perut.

Anas mengungkapkan, kualitas olahan makanan pada Kamis pekan lalu memang sempat memicu kecurigaan. Saat mengonsumsi menu ayam woku, ia menemukan olahan daging yang belum matang sempurna.

“Tampilan biasa saja, tapi khusus Kamis, olahan ayam woku yang saya makan di gigitan terakhir masih ada darahnya. Akhirnya tidak saya lanjutkan,” ungkapnya.

Atas insiden ini, pihak sekolah mendesak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku penyedia makanan untuk meningkatkan ketelitian dan respons terhadap keluhan yang muncul. Pihaknya berharap kejadian ini menjadi evaluasi ketat dalam penyajian program MBG ke depan agar keselamatan penerima manfaat dapat terjamin.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *