Kesehatan

Stunting di Bandung Barat Masih Tinggi, Bagaimana Langkah Pemda?

×

Stunting di Bandung Barat Masih Tinggi, Bagaimana Langkah Pemda?

Sebarkan artikel ini
Stunting di Bandung Barat Masih Tinggi, Bagaimana Langkah Pemda?
Stunting di Bandung Barat Masih Tinggi, Bagaimana Langkah Pemda?

PenaKu.ID – Angka prevalensi stunting (tengkes) di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, masih tergolong tinggi. Berdasarkan data yang disampaikan dalam pembahasan penanganan stunting, prevalensi stunting KBB pada 2024 mencapai 30,8 persen, sehingga daerah tersebut masih menjadi salah satu wilayah dengan beban stunting tinggi di Jawa Barat.

Persoalan tengkes di KBB dinilai tidak semata-mata berkaitan dengan kondisi ekonomi dan akses terhadap layanan kesehatan. Pemahaman masyarakat mengenai pemenuhan kebutuhan gizi anak juga menjadi salah satu aspek yang perlu diperkuat.

Salah satu persoalan yang masih ditemukan adalah anggapan bahwa kental manis merupakan susu yang dapat memenuhi kebutuhan gizi anak.

Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail, mengatakan penanganan tengkes membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, upaya tersebut tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah daerah.

Hal itu disampaikan Asep setelah menerima audiensi dari Paguyuban Pejuang Peduli Pembangunan Kabupaten Bandung Barat (P4KBB) terkait upaya bersama menekan angka stunting di KBB. Audiensi tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat, dr. Hj. Lia Nurliana Sukandar, di kantor pada Senin, 5 Oktober 2026.

“Alhamdulillah barusan sudah menerima tamu dari P4KBB yang dipimpin Kang Yacub dan jajarannya terkait dengan stunting. Intinya P4KBB ingin membantu menurunkan angka stunting di Kabupaten Bandung Barat,” ujar Asep.

Pemkab Bandung Barat Perkuat Kolaborasi Penanganan Stunting

Asep menyebut rencana keterlibatan P4KBB merupakan bentuk kolaborasi positif antara pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan.

Rencana tersebut akan ditindaklanjuti bersama Tim Satgas Stunting Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, termasuk Dinas Kesehatan.

Menurut Asep, keterlibatan berbagai pihak diperlukan untuk memperkuat intervensi dalam penanganan tengkes, baik melalui intervensi spesifik maupun intervensi sensitif.

Pemahaman soal Kental Manis Masih Perlu Diluruskan

Selain persoalan intervensi, Asep menyoroti pemahaman masyarakat mengenai kental manis yang masih dianggap sebagai susu untuk anak.

Ia mengatakan anggapan tersebut perlu terus diluruskan karena kental manis tidak dapat dijadikan sumber utama untuk memenuhi kebutuhan gizi harian anak.

“Kesalahpahaman ini harus terus diluruskan. Banyak orang tua, terutama ibu muda, masih menganggap kental manis sama dengan susu, padahal fungsinya berbeda dan tidak bisa dijadikan sumber gizi utama bagi anak,” kata Asep.

Terkait perkembangan angka tengkes terbaru di KBB, Asep menjelaskan pemerintah daerah masih menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 sebagai salah satu rujukan.

“Untuk tahun ini belum tahu angkanya. Saat ini kita masih memakai yang 2024, angka dari SSGI. Alhamdulillah kemarin kita mengadakan bulan penimbangan balita,” katanya.

P4KBB Siap Edukasi Masyarakat hingga Sekolah

Ketua P4KBB, Yacub Anwar Lewi, mengatakan tengkes merupakan persoalan yang harus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, penanganan masalah tersebut tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah daerah.

P4KBB, kata Yacub, siap mengambil bagian melalui edukasi dan penyuluhan kepada masyarakat, termasuk kalangan pelajar.

“Kami organisasi kemasyarakatan yang tentu bermitra dengan pemerintah, P4KBB peduli dengan angka stunting di Bandung Barat yang sangat tinggi,” ujar Yacub.

P4KBB berencana mengunjungi sejumlah sekolah SMA dan Madrasah Aliyah di Kabupaten Bandung Barat untuk memberikan edukasi mengenai tengkes.

Upaya tersebut diarahkan sebagai langkah pencegahan dari hulu hingga hilir. Materi yang disampaikan akan mencakup kesehatan reproduksi, pemenuhan gizi, kehamilan, hingga tumbuh kembang anak.

Pencegahan Stunting Dimulai Sejak Sebelum Kehamilan

Yacub mengatakan pencegahan tengkes perlu dilakukan sejak masa sebelum pasangan menikah. Karena itu, P4KBB berencana berkoordinasi dengan Kementerian Agama (Kemenag) KBB dan Kantor Urusan Agama (KUA).

Menurutnya, calon pengantin juga perlu memperoleh edukasi mengenai tengkes, termasuk risiko pernikahan usia dini dan kesiapan dalam membangun keluarga.

“Bagaimanapun juga setelah menikah, terutama kalau menikah di usia dini, pasti punya anak. Karena itu, edukasi harus diberikan sejak awal,” ujarnya.

Sebelumnya, P4KBB telah menggelar penyuluhan bersama Dinas Kesehatan di sekretariat organisasi tersebut. Kegiatan itu diikuti sekitar 35 ibu-ibu.

Ke depan, kegiatan serupa akan kembali digelar dengan melibatkan Dinas Kesehatan serta Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana.

Yacub mengatakan materi penyuluhan akan dipertajam pada 15 Oktober mendatang agar edukasi mengenai stunting lebih mudah dipahami masyarakat, terutama generasi muda.

Angka Stunting 2024 Masih Jadi Rujukan

Yacub menyebut berdasarkan data yang diketahuinya, angka stunting Kabupaten Bandung Barat pada 2024 mencapai 30,8 persen.

Namun, angka tersebut belum dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi terbaru karena hasil survei nasional terbaru belum diketahui.

“Untuk angka stunting 2024 itu 30,8 persen. Sekarang katanya sudah menurun, tetapi keabsahan menurun atau tidaknya kita belum tahu karena masih menunggu hasil survei nasional,” tuturnya.

Menurut Yacub, penanganan stunting merupakan persoalan jangka panjang. Upaya tersebut tidak berhenti setelah seorang anak lahir, tetapi harus dilakukan sejak masa kehamilan.

“Bicara stunting ini panjang, mulai dari kehamilan sampai lahir, minimal satu tahun,” katanya.

Ia menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia harus berjalan seiring dengan pembangunan daerah. Karena itu, aspek kesehatan, termasuk persoalan stunting, menjadi bagian penting dalam mewujudkan masyarakat yang maju.

“Bagaimana masyarakat bisa maju kalau kesehatannya kurang bagus,” ujarnya.

Penanganan Stunting Libatkan Lintas Sektor

Dalam upaya tersebut, P4KBB juga akan membangun koordinasi dengan berbagai mitra, termasuk BPJS dan instansi terkait.

Koordinasi lintas sektor akan dilakukan untuk menentukan bentuk intervensi dan edukasi yang dinilai tepat.

Salah satu sasaran utama adalah kalangan pelajar melalui kegiatan penyuluhan di sekolah-sekolah di Kabupaten Bandung Barat.

Materi yang akan diberikan mencakup pencegahan pernikahan dini, kesehatan reproduksi, kesiapan berkeluarga, serta pentingnya pemenuhan gizi sejak masa kehamilan.

Kolaborasi antara Pemkab Bandung Barat, organisasi kemasyarakatan, tenaga kesehatan, sekolah, Kemenag, KUA, dan berbagai pihak lainnya diharapkan dapat memperkuat upaya menekan angka stunting di Kabupaten Bandung Barat.

“Dengan pendekatan pentahelix, penanganan stunting diharapkan tidak hanya berfokus pada penanganan anak yang sudah mengalami masalah pertumbuhan, tetapi juga mencegah munculnya kasus baru sejak dari hulu,” tandasnya.**