PenaKu.ID – Kerapuhan kesepakatan damai kembali teruji di Timur Tengah. Meski gencatan senjata baru memasuki pekan kedua sejak diumumkan pada 16 April, kekerasan mematikan justru kembali pecah di Lebanon Selatan.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya sembilan orang, termasuk dua anak-anak, tewas dalam serangan udara Israel pada hari Kamis.
Pelanggaran Kesepakatan di Garis Kuning Lebanon
Ketegangan ini memicu perdebatan sengit mengenai efektivitas diplomasi yang dimediasi di Washington. Militer Israel berkilah bahwa operasi mereka menargetkan infrastruktur Hizbullah sebagai respons atas pelanggaran kesepakatan oleh kelompok milisi tersebut.
Ironisnya, perintah evakuasi yang dikeluarkan mencakup 15 desa, di mana banyak di antaranya berada di luar “Garis Kuning”—zona penyangga 10 kilometer yang ditetapkan Israel sebagai area operasi aktif.
Krisis Kemanusiaan di Lebanon dan Desakan Internasional
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, melontarkan kritik tajam terhadap apa yang ia sebut sebagai “pelanggaran berkelanjutan.” Selain korban jiwa, serangan ini menghancurkan rumah tinggal dan tempat ibadah.
Aoun mendesak tekanan internasional agar Israel menghormati hukum konvensi dan berhenti menargetkan warga sipil serta petugas medis di tengah situasi yang kian tidak menentu ini.**





