Olahraga

Kehancuran Total Zhang Jindong Mantan Bos Inter Milan

×

Kehancuran Total Zhang Jindong Mantan Bos Inter Milan

Sebarkan artikel ini
Kehancuran Total Zhang Jindong Mantan Bos Inter Milan
Kehancuran Total Zhang Jindong Mantan Bos Inter Milan/(instagram)

PenaKu.ID – Dunia sepak bola dan bisnis internasional dikejutkan dengan kabar tragis yang menimpa mantan bos besar Inter Milan, Zhang Jindong.

Pendiri Suning Group ini dilaporkan telah kehilangan seluruh kekayaan pribadinya demi menutup lubang utang yang menganga.

Berdasarkan laporan dari Tiongkok, Pengadilan Rakyat Menengah Nanjing telah merampungkan rencana restrukturisasi Suning beserta 38 anak perusahaannya guna membereskan beban finansial yang mencapai angka fantastis.

Beban Utang Rp500 Triliun dan Penyitaan Aset Zhang Jindong

Total utang yang menjerat gurita bisnis ini menyentuh angka 238,7 miliar yuan atau setara dengan 29,9 miliar euro.

Jika dikonversi ke rupiah, jumlahnya mencapai lebih dari Rp500 triliun. Guna melunasi kewajiban tersebut, Zhang terpaksa menyerahkan semua yang ia miliki.

Mulai dari properti mewah, saham perusahaan, hingga koleksi seni bernilai tinggi kini telah dilelang atau dialihkan ke pihak kurator. Praktis, pria yang dahulu dikenal sebagai miliarder berpengaruh ini kini tidak lagi memiliki aset bebas atas namanya sendiri.

Efek Domino Ekspansi Agresif dan Pandemi pada Zhang Jindong

Kejatuhan ini bukanlah kejadian instan, melainkan hasil dari strategi ekspansi yang terlalu berisiko antara tahun 2016 hingga 2020.

Kala itu, Suning mengumpulkan pinjaman lebih dari 180 miliar yuan yang sebagian besar menggunakan jaminan pribadi Zhang. Situasi diperparah oleh pandemi pada tahun 2020 yang memicu kemacetan arus kas sistemik.

Pada tahun 2021, kerugian grup bahkan menembus angka 40 miliar yuan. Meski prestasi Inter Milan di lapangan sempat bersinar, realitas pahit di balik layar membuktikan bahwa manajemen finansial yang buruk tetap menjadi bom waktu yang mematikan.

Kisah Zhang Jindong kini menjadi pengingat keras bagi para investor di industri olahraga. Bahwa kemegahan di stadion tidak selalu mencerminkan kesehatan neraca keuangan perusahaan induknya.**