Olahraga

Virus Nipah Kembali Muncul, Ini Fakta dan Risikonya

Virus Nipah Kembali Muncul, Ini Fakta dan Risikonya
Virus Nipah Kembali Muncul, Ini Fakta dan Risikonya. /Ilustrasi (pexels)

PenaKu.ID – Virus Nipah kembali menyita perhatian global setelah sejumlah negara di Asia Selatan melaporkan kemunculan kasus baru pada awal 2026. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan virus zoonosis ini masih masuk kategori berisiko tinggi karena tingkat kematiannya yang signifikan, meski peluang penyebaran secara global dinilai rendah.

Nipah merupakan penyakit menular yang berasal dari hewan dan dapat menular ke manusia. Virus ini memiliki reservoir alami pada kelelawar buah dari keluarga Pteropodidae. Sejak pertama kali terdeteksi pada akhir 1990-an di Malaysia dan Singapura, Nipah terus muncul secara berulang, terutama di wilayah Bangladesh dan India.

Kasus Baru Virus Nipah Dilaporkan Awal 2026

WHO melaporkan satu kasus Nipah terkonfirmasi di Bangladesh pada Januari 2026. Pasien dinyatakan meninggal dunia setelah mengalami demam tinggi disertai gangguan neurologis berat. Otoritas kesehatan setempat telah melakukan pelacakan terhadap puluhan kontak erat, namun hingga kini belum ditemukan indikasi penularan lanjutan.

Di India, beberapa kasus juga dikonfirmasi di wilayah West Bengal. Pemerintah daerah segera menerapkan langkah pengendalian, termasuk isolasi pasien, pemantauan ketat terhadap kontak erat, serta penguatan protokol pencegahan infeksi di fasilitas layanan kesehatan.

WHO menilai kasus-kasus tersebut masih bersifat sporadis dan belum menunjukkan tanda-tanda terjadinya wabah dalam skala luas.

Penularan dan Gejala Klinis Virus Nipah

Penularan virus Nipah dapat terjadi dari hewan ke manusia melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, terutama kelelawar dan babi. Selain itu, infeksi juga dapat terjadi akibat konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, seperti buah atau nira yang terpapar air liur kelelawar.

Penularan antarmanusia juga dimungkinkan, khususnya melalui kontak erat dengan cairan tubuh penderita. Risiko ini meningkat di lingkungan layanan kesehatan apabila protokol pencegahan dan pengendalian infeksi tidak diterapkan secara optimal.

Gejala awal infeksi Nipah umumnya berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Pada kondisi yang lebih berat, penderita dapat mengalami gangguan pernapasan hingga peradangan otak atau ensefalitis, yang berpotensi berujung pada kematian.

Tingkat Kematian Masih Tinggi

WHO mencatat tingkat kematian akibat infeksi virus Nipah berkisar antara 40 hingga 75 persen. Angka tersebut bergantung pada lokasi kejadian serta kesiapan dan kualitas penanganan medis.

Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun obat antivirus yang secara khusus disetujui untuk menangani infeksi Nipah. Penanganan pasien masih bersifat suportif, dengan fokus pada perawatan gejala dan pencegahan komplikasi.

Kewaspadaan di Indonesia

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus virus Nipah di dalam negeri. Meski demikian, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan melalui penguatan sistem surveilans penyakit menular, terutama di pintu masuk negara serta wilayah dengan populasi kelelawar yang tinggi.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta menghindari konsumsi makanan atau minuman yang berpotensi terkontaminasi.

Munculnya kembali kasus virus Nipah di Asia Selatan menjadi pengingat akan ancaman penyakit zoonosis yang masih nyata. Meski risiko penyebaran global dinilai rendah, karakter virus yang mematikan menjadikan upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengendalian infeksi sebagai langkah krusial.** (tds)

Exit mobile version