Ekonomi

Tren Positif Rupiah Berlanjut, Apa Penyebabnya?

Tren Positif Rupiah Berlanjut, Apa Penyebabnya?
Tren Positif Rupiah Berlanjut, Apa Penyebabnya? /Foto: istimewa

PenaKu.ID – Nilai tukar rupiah menunjukkan tren pemulihan setelah mengalami tekanan cukup berat dalam beberapa pekan terakhir. Pada perdagangan awal pekan, Senin (15/6/2026) pagi, mata uang Garuda bergerak lebih stabil terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring membaiknya sentimen pasar dan langkah stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia (BI).

Sebelumnya, mata uang Garuda sempat melemah hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, yang menjadi salah satu posisi terendah dalam sejarah pergerakan mata uang nasional. Namun, tekanan tersebut mulai mereda dalam beberapa hari terakhir. Mata uang Garuda kini bergerak menguat di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.

Penguatan nilai tukar rupiah didorong oleh kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal kuat komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus meredam potensi arus keluar modal asing.

Respons positif pun datang dari pelaku pasar. Sejumlah investor asing mulai kembali menempatkan dana pada instrumen keuangan domestik, terutama obligasi pemerintah dan surat berharga yang menawarkan imbal hasil menarik di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Apa Yang Memengaruhi Pergerakan Rupiah?

Selain faktor domestik, pergerakan rupiah juga dipengaruhi berbagai dinamika eksternal. Penguatan dolar AS dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan geopolitik, serta perubahan arah kebijakan moneter global menjadi faktor yang turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski demikian, sejumlah indikator menunjukkan kondisi pasar mulai membaik. Stabilitas cadangan devisa, langkah intervensi yang dilakukan Bank Indonesia, serta meningkatnya minat investor terhadap aset domestik menjadi penopang pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Pengamat menilai arah pergerakan rupiah ke depan masih sangat dipengaruhi perkembangan ekonomi global, terutama kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve. Jika tekanan eksternal mereda dan aliran modal asing terus masuk ke pasar domestik, peluang rupiah untuk mempertahankan tren penguatan dinilai cukup terbuka.

Di sisi lain, volatilitas masih berpotensi terjadi karena pasar keuangan global tetap dibayangi berbagai ketidakpastian. Karena itu, pelaku pasar dan investor diimbau untuk terus mencermati perkembangan ekonomi internasional yang berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar dalam waktu dekat.

Untuk saat ini, rupiah berhasil menjauh dari level terendahnya dan menunjukkan ketahanan yang lebih baik dibandingkan beberapa pekan sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi stabilitas pasar keuangan nasional di tengah tantangan ekonomi global yang masih berlangsung.** (tds)

Exit mobile version