Ragam

Refleksi Pemikiran Sumitro Djojohadikusumo: Mengurai Tantangan Struktural dan Perilaku Gen Z Menuju Indonesia Emas 2045

IMG 20260922 WA0071
Foto Istimewa: Para peserta School of Thought The Kertanegara Institute School of Thought Founding Associates Batch One untuk mengikuti sesi bersama Dr. Avilliani, Ketua Bidang VI Kerja Sama Dalam Negeri Pengurus Pusat ISEI, dalam pembahasan mengenai sejarah dan perkembangan pemikiran ekonomi Indonesia di Menara Kadin Indonesia, Ruang Sinarmas, Lantai 29 Jakarta, Selasa (22/9/2026).

PenaKu.ID – Menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan perubahan struktur pasar domestik, The Kartanegara Institute menggelar diskusi strategis mengenai warisan pemikiran Bapak Ekonomi Pembangunan Indonesia sekaligus Pendiri BNI, Prof. Sumitro Djojohadikusumo. Acara tersebut berlangsung di Gedung Jalan H.R. Rasuna Said Lantai 29, Jakarta Selatan, pada Selasa (22/9/2026).

Diskusi yang menghadirkan Ketua Bidang VI Kerjasama Dalam Negeri PP ISEI sekaligus Wakil Ketua Umum Bidang Kebijakan Analisis Makro Mikro Ekonomi Kadin Indonesia, Dr. Aviliani, bersama jajaran ekonom dan akademisi ini menyoroti relevansi Sumitronomics dalam menjawab tantangan pertumbuhan ekonomi nasional saat ini.

Efisiensi Struktural dan Relevansi Sumitronomics

Dalam pemaparan diskusi, relevansi pemikiran Prof. Sumitro kembali diangkat, khususnya terkait efisiensi ekonomi yang diukur melalui Incremental Capital Output Ratio (ICOR). Isu kebocoran ekonomi yang sempat mengemuka pada dekade 1990-an sejatinya merupakan persoalan produktivitas dan efisiensi industri nasional yang masih jauh tertinggal dari negara tetangga.

Tantangan utama Indonesia saat ini terletak pada persoalan institusional dan struktural. Kebijakan pemerintah diharapkan fokus pada perbaikan sistem secara menyeluruh guna menciptakan iklim investasi yang kondusif. Di tengah pergeseran tren investasi global ke arah industri militer, ekonomi hijau, dan teknologi AI, Indonesia dinilai perlu memanfaatkan keunggulan komparatifnya pada komoditas critical mineral untuk memperkuat posisi tawar di rantai pasok global.

Kualitas Pertumbuhan dan Fenomena “Makan Tabungan”

Diskusi juga mengkritisi kualitas pertumbuhan ekonomi nasional. Meski angka pertumbuhan berada di kisaran 5 persen, dampaknya belum dirasakan secara merata oleh masyarakat. Munculnya fenomena penurunan daya beli masyarakat kelas menengah atau fenomena “makan tabungan” hingga “makan utang” menunjukkan adanya ketimpangan antara pendapatan riil dan biaya hidup non-makanan yang terus meningkat.

Proses deindustrialisasi dini turut memperlambat penyerapan tenaga kerja di sektor formal. Keterbatasan lapangan kerja berkualitas mendorong peningkatan jumlah pekerja di sektor informal. Para panelis menekankan pentingnya peran investasi swasta guna menciptakan lapangan kerja produktif, mengingat efektivitas stimulus belanja pemerintah melalui APBN memiliki keterbatasan dalam jangka panjang jika tidak diimbangi oleh penguatan sektor riil.

Perubahan Perilaku Konsumsi Gen Z dan Tantangan Demografi

Sesi diskusi turut menyoroti pergeseran pola konsumsi Generasi Z yang dinilai berbeda signifikan dibanding generasi sebelumnya. Preferensi belanja generasi muda saat ini lebih terfokus pada sektor jasa, gaya hidup, otomotif, serta produk perawatan diri, ketimbang investasi aset jangka panjang seperti properti. Perubahan pola ini memengaruhi efek pengganda (multiplier effect) terhadap industri manufaktur tradisional yang selama ini menjadi penyerap tenaga kerja terbesar.

Selain itu, persoalan literasi keuangan menjadi sorotan. Tingginya angka inklusi keuangan belum diimbangi oleh pemahaman risiko yang memadai, sehingga berpotensi memicu perilaku investasi spekulatif di kalangan anak muda.

Tantangan ini kian kompleks dengan adanya perubahan demografi. Periode bonus demografi Indonesia yang diproyeksikan berakhir pada rentang 2030–2035 menuntut adanya kebijakan terobosan dalam penyerapan tenaga kerja, penguatan kualitas modal manusia (human capital), serta insentif yang mampu mendorong produktivitas generasi muda menuju visi Indonesia Emas 2045.

***

Exit mobile version