PenaKu.ID – Kehidupan manusia adalah sebuah spektrum pengalaman yang dinamis, di mana suka dan duka hadir silih berganti. Tidak ada satu pun manusia di dunia yang hanya merasakan kebahagiaan tanpa pernah tersentuh kesedihan, begitu pula sebaliknya.
Suka dan duka adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dari eksistensi kita. Namun, seringkali kita terobsesi untuk mengejar kebahagiaan abadi dan menolak mentah-mentah penderitaan, seolah-olah kesedihan adalah sebuah anomali.
Padahal, penerimaan terhadap dualitas inilah yang menjadi kunci ketangguhan mental. Mengakui bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana dan bahwa masa-masa sulit adalah bagian yang wajar dari perjalanan, membantu kita membangun resiliensi. Setiap manusia, terlepas dari status sosial, kekayaan, atau latar belakangnya, pasti akan menghadapi tantangan, kehilangan, dan kekecewaan.
Roda Kehidupan Selalu Berputar ada Suka dan Duka
Filosofi “roda kehidupan” yang sering didengar bukanlah isapan jempol belaka. Ada kalanya kita berada di puncak, menikmati kesuksesan dan kegembiraan. Namun, takdir bisa membawa kita ke titik terendah, menghadapi kegagalan dan duka.
Memahami siklus ini membuat kita tetap rendah hati saat sukses dan tetap optimis saat terpuruk. Kebahagiaan yang berlebihan bisa membuat lupa diri, sementara kesedihan yang berlarut-larut bisa merenggut harapan. Keseimbangan adalah kuncinya.
Menemukan Kekuatan dalam Suka dan Duka
Seringkali, karakter dan kekuatan sejati seseorang justru terbentuk bukan pada saat ia bahagia, melainkan pada saat ia berhasil melewati badai kehidupan. Kesulitan memaksa kita untuk introspeksi, belajar, dan tumbuh. Duka mengajarkan kita empati, sementara suka mengajarkan kita rasa syukur.
Menerima kedua aspek ini secara utuh berarti menjalani kehidupan yang penuh. Daripada terus-menerus melawan realitas, menerima bahwa suka dan duka adalah paket lengkap kemanusiaan akan membawa kita pada kedamaian yang lebih besar.**
