PenaKu.ID – Lembah Bekaa di Lebanon kembali menjadi saksi bisu kekerasan yang mematikan. Sebuah operasi militer darat dan udara berskala besar oleh pasukan Israel di kota Nabi Chit telah merenggut sedikitnya 41 nyawa, termasuk warga sipil dan anak-anak.
Ironisnya, operasi yang meninggalkan puing-puing bangunan dan kawah raksasa ini kabarnya dipicu oleh misi pencarian sisa-sisa jenazah seorang penerbang militer Israel yang hilang 40 tahun silam.
Warga lokal melaporkan pemandangan yang memilukan: liang lahat yang digali paksa di pemakaman desa namun berakhir kosong tanpa hasil.
Di sekitar lokasi, sisa-sisa kehidupan warga sipil seperti buku mewarnai anak dan peralatan masak berserakan di antara reruntuhan beton. Operasi ini menunjukkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar oleh penduduk sipil demi sebuah misi militer yang bahkan tidak membuahkan hasil nyata di lapangan.
Taktik Penyamaran dan Pertempuran di Jalanan Kota Nabi Chit
Kesaksian dari warga dan militer Lebanon mengungkap detail mengejutkan mengenai taktik yang digunakan dalam serangan tersebut. Pasukan komando Israel dikabarkan menyusup menggunakan seragam militer Lebanon dan kendaraan ambulans yang menyerupai milik Organisasi Kesehatan Islam (afiliasi Hizbullah).
Penyamaran ini memungkinkan mereka mendarat di dekat perbatasan Suriah sebelum akhirnya terlibat dalam baku tembak sengit dengan pejuang Hizbullah dan warga yang mencoba mempertahankan rumah mereka.
Warga Sipil Nabi Chit Terjebak dalam Silang Sengketa
Bagi keluarga seperti Mohamed Chokr, yang kehilangan paman dan kerabatnya dalam serangan tersebut, klaim militer seringkali tidak sesuai dengan realitas di lapangan.
Meskipun Israel mengeluarkan perintah evakuasi, banyak warga merasa aman karena mereka tidak memiliki afiliasi politik dengan Hizbullah. “Kami adalah warga Syiah, kami menghormati Hizbullah, tapi kami adalah tentara Lebanon,” tegas Chokr.
Tragedi di Nabi Chit mempertegas narasi kelam perang ini: bahwa dalam upaya menghancurkan target militer, garis antara kombatan dan warga sipil yang tidak bersalah semakin kabur, menyisakan luka mendalam bagi kedaulatan Lebanon.**
