PenaKu.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (11/5/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah seiring dominasi penguatan dolar AS yang masih membayangi pasar keuangan global.
Berdasarkan data perdagangan pasar spot, nilai tukar rupiah bergerak di rentang Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar rupiah ini dipicu meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang diperkirakan masih mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Ketidakpastian ekonomi global turut memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam situasi tersebut, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap aman seperti dolar AS di tengah meningkatnya tensi geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia.
Bank Indonesia (BI) memastikan terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali. Upaya intervensi dilakukan di pasar valuta asing maupun pasar obligasi domestik guna meredam volatilitas yang dinilai berlebihan.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, sebelumnya menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah lebih dipengaruhi faktor eksternal ketimbang kondisi fundamental ekonomi nasional. Ia menilai kondisi ekonomi Indonesia masih relatif kuat, ditopang inflasi yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang tetap solid.
Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Masih Bergerak Dinamis
Selain melakukan intervensi pasar, BI juga memperketat aturan transaksi valuta asing. Kebijakan tersebut diterapkan untuk menekan permintaan dolar AS di pasar domestik sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Analis pasar keuangan menilai pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih berpotensi bergerak fluktuatif. Sentimen utama tetap berasal dari arah kebijakan The Fed, pergerakan imbal hasil obligasi AS, hingga perkembangan geopolitik global yang memengaruhi arus modal asing.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi perhatian pasar. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan kebutuhan impor energi Indonesia, sehingga berpotensi memperbesar permintaan dolar AS dan memberi tekanan tambahan terhadap rupiah.
Meski demikian, sejumlah ekonom meyakini rupiah masih memiliki peluang untuk kembali stabil apabila langkah intervensi BI berjalan efektif dan tekanan sentimen global mulai mereda dalam beberapa bulan mendatang.** (tds)
