Ekonomi

Nilai Tukar Rupiah Indonesia Tembus Rp17.800 per Dolar AS

×

Nilai Tukar Rupiah Indonesia Tembus Rp17.800 per Dolar AS

Sebarkan artikel ini
Nilai Tukar Rupiah Indonesia Tembus Rp17.800 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah Indonesia Tembus Rp17.800 per Dolar AS. /Ilustrasi (pexels)

PenaKu.ID – Nilai tukar rupiah Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat (29/5/2026) hingga siang hari. Mata uang Garuda diperdagangkan di kisaran Rp17.800 per dolar AS dan melanjutkan tren pelemahan yang terjadi sepanjang Mei 2026.

Berdasarkan data perdagangan pasar spot dari berbagai sumber, rupiah Indonesia bergerak di level Rp17.800-an per dolar AS. Posisi tersebut mendekati titik terlemah sepanjang sejarah setelah sehari sebelumnya, Kamis (28/5/2026), rupiah sempat menyentuh area Rp17.858 per dolar AS.

Pelemahan rupiah Indonesia dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Dolar AS masih menunjukkan penguatan di tengah tingginya minat investor terhadap aset aman global. Pasar juga masih mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve.

Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan ketidakpastian geopolitik global turut memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut membuat mayoritas mata uang Asia mengalami tekanan terhadap dolar AS.

Bagaiman Nilai Tukar Rupiah Indonesia Beberapa Waktu ke Depan?

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga volatilitas rupiah tetap terkendali. Mengacu pada data Kurs Transaksi BI terbaru, nilai tukar referensi dolar AS berada di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS.

Sementara itu, kurs jual dolar AS di sejumlah bank nasional juga masih bergerak tinggi. Pada perdagangan terakhir yang tersedia, beberapa bank besar mematok kurs jual dolar AS mendekati Rp17.900 per dolar AS untuk transaksi tertentu.

Analis pasar menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek apabila indeks dolar AS tetap menguat dan sentimen global belum stabil. Meski demikian, intervensi BI di pasar valuta asing dan obligasi dinilai masih mampu menahan pelemahan rupiah agar tidak bergerak lebih dalam.

Di sisi lain, sejumlah indikator domestik Indonesia dinilai masih cukup solid. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 tetap mencatatkan kinerja positif, inflasi relatif terkendali, dan neraca perdagangan masih berada dalam kondisi surplus. Faktor-faktor tersebut dipandang dapat menjadi penopang stabilitas rupiah dalam jangka menengah.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data ekonomi terbaru dari AS serta langkah lanjutan Bank Indonesia untuk menentukan arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan.** (tds)