PenaKu.ID – Ada aroma nostalgia yang kuat di antara pepohonan rimbun dan bangunan heritage di sudut-sudut Sukabumi. Bukan sekadar kenangan, namun sebuah ambisi besar yang sedang ditenun oleh para sineas lokal. Mereka tidak hanya sedang memutar kamera; mereka sedang mencoba memutar kembali waktu ke era 90-an, masa di mana Sukabumi adalah “kiblat” visual perfilman nasional.
Bukan Sekadar Horor: Panggung Pembuktian SDM Lokal
Di bawah komando sutradara senior, Bara Bantara Seta atau sapaan akrab Abay, sebuah proyek berjudul “Anak Ghoib Jalanan” tengah digarap. Namun, jangan salah sangka. Bagi Abay, film ini bukan sekadar mengejar jump scare atau tren genre horor. Ini adalah sebuah “deklarasi” kemampuan talenta lokal.
Sinergi antara Jakarta dan Sukabumi kini bukan lagi soal jarak, melainkan soal kualitas. Melalui kolaborasi strategis antara Production House (PH) ibu kota dan aktor nasional, Abay ingin membuktikan bahwa talenta Sukabumi bukan hanya pelengkap, melainkan penggerak.
“Ini adalah ekspansi potensi. Kami ingin menunjukkan bahwa Sukabumi memiliki SDM yang sangat mumpuni. Kolaborasi ini adalah pintu masuk agar komunitas lokal bisa berbicara banyak di panggung nasional,” ujar Abay, pria yang telah mengarsiteki lebih dari 100 judul FTV sejak 1992 ini saat di wawancara PenaKu.ID melalui sambungan telepon WhatsApp, Kamis (5/3/2026).

Romantisme Lokasi di Sukabumi: Dari Heritage hingga Box Office
Mengapa Sukabumi selalu punya tempat spesial di mata kamera? Jawabannya ada pada keragaman wajahnya. Kota ini adalah “bunglon” bagi para pencari visual—mampu berubah menjadi latar horor yang mencekam atau drama yang melankolis dalam sekejap.
Abay menekankan bahwa jika sineas luar saja terpesona dengan lanskap kota ini hingga menjadikannya lokasi film-film box office terbaru, maka sudah saatnya putra daerah sendiri yang mengelola aset emas tersebut. Membangkitkan kejayaan 90-an bukan sekadar romantisme, tapi kebutuhan industri.
Mencetak Desy Ratnasari Baru: Kaderisasi dan Ekonomi
Semangat ini pun disambut hangat oleh Lapdek Comunity Sukabumi (LCS). Bagi mereka, Sukabumi adalah “rahim” yang pernah melahirkan bintang besar sekelas Desy Ratnasari hingga Diah Permatasari.
“Kami tidak ingin estafet itu terputus,” tegas Ketua LCS, Kompol Purn Sunarya Ishak. LCS kini fokus melakukan kaderisasi aktor masa depan agar “pabrik bintang” ini kembali berproduksi.

Namun, efek dominonya lebih dari sekadar seni peran. Setiap teriakan “Action!” di lokasi syuting adalah denyut nadi bagi ekonomi daerah diantaranya Okupansi Hotel meningkat seiring hadirnya kru dan pemain,
Kuliner dan UMKM menjadi penyokong kebutuhan logistik produksi dan juga Berkontribusi langsung pada pendapatan asli daerah melalui pajak dan jasa (PAD).
“Kami tidak hanya bicara teori, kami langsung berkolaborasi dan melaksanakannya di lapangan,” pungkas Sunarya dengan nada optimis.
Kini, layar lebar Indonesia bersiap kembali menatap ke arah selatan Jawa Barat. Sukabumi tidak hanya ingin dikenang sebagai sejarah, ia ingin kembali menjadi pusat cerita.**











