PenaKu ID – Dinding-dinding beton yang tinggi dan kawat berduri yang kokoh tak mampu menghalangi gemuruh takbir yang membubung ke langit Sukabumi pada Rabu pagi, (27/5/2026).
Di balik jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sukabumi, suasana Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah terasa begitu pekat dengan haru dan kekhidmatan. Ratusan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) bersanding bahu dengan para petugas, menundukkan kepala dalam ruku dan sujud di bawah langit pagi yang teduh.
Bagi para warga binaan, Idul Adha kali ini bukan sekadar perayaan hari besar keagamaan. Ini adalah panggung refleksi tentang arti sebuah kehilangan, penyesalan, dan yang terpenting: sebuah keikhlasan.
Khutbah yang Menggetarkan Sanubari
Suasana semakin syahdu saat Ustadz Baden Badrudin dari Kementerian Agama Kota Sukabumi naik ke atas mimbar sebagai imam sekaligus khatib. Dalam khutbahnya, ia membawa ingatan para jemaah kembali pada kisah ribuan tahun lalu tentang Nabi Ibrahim AS yang dengan keteguhan hati yang maha dahsyat, ikhlas mengorbankan putra tercintanya, Nabi Ismail AS, demi menunaikan perintah Sang Khalik.
Sebuah kisah keikhlasan yang menjadi tamparan sekaligus obat penyejuk bagi warga binaan. Ustadz Baden mengingatkan bahwa kurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan, melainkan sebuah simbol untuk “menyembelih” ego, ketamakan, dan hawa nafsu buruk dalam diri manusia. Bagi warga binaan, keikhlasan Nabi Ibrahim adalah teladan nyata untuk ikhlas menerima ketetapan takdir, menjalani masa pembinaan dengan kelapangan dada, dan bertekad keluar sebagai manusia yang baru.
Mengasah Karakter Lewat Sebilah Pisau Kurban
Usai salat, suasana khidmat berganti menjadi kesibukan yang sarat gotong royong. Di bawah komando langsung Kepala Lapas Kelas IIB Sukabumi, Budi Hardiono, sebuah apel kesiapan digelar. Tahun ini, Lapas Sukabumi menyembelih 11 ekor kambing dan 1 ekor sapi.
Uniknya, ada 16 orang warga binaan yang terpilih untuk memegang peranan penting dalam proses penyembelihan ini. Tentu bukan sembarang pilih, mereka adalah orang-orang yang telah dinyatakan lulus ujian perilaku melalui sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP).
Di bawah pengawasan ketat petugas terkait penggunaan alat tajam, para warga binaan ini menunjukkan dedikasinya. Ada pemandangan menarik yang sarat makna: tangan-tangan yang mungkin di masa lalu pernah salah melangkah, hari itu bekerja dengan cekatan, penuh kehati-hatian, dan ketulusan, menguliti dan memotong daging kurban untuk dibagikan kepada sesama. Ada rasa tanggung jawab dan kepercayaan yang sedang mereka bayar tuntas.

Aroma Sate dan Kehangatan Rumah yang Singgah
Filosofi “Pemasyarakatan Pasti Bermanfaat Untuk Masyarakat” yang digaungkan Dirjenpas benar-benar membumi hari itu. Daging kurban tidak hanya mengalir keluar dinding lapas untuk para stakeholder dan masyarakat sekitar, tetapi juga mengalir ke dalam menjadi berkah untuk mereka yang rindu masakan rumah.
Siang harinya, aroma bakaran sate menguar di udara lapas, membaur bersama tawa dan obrolan hangat. Petugas dan warga binaan duduk bersama, menikmati hidangan sate hasil olahan daging kurban. Di momen makan bersama ini, sekat antara pelanggar hukum dan penegak hukum seolah melebur, digantikan oleh rasa kekeluargaan yang magis.
“Hari Raya Iduladha menjadi momentum untuk memperkuat nilai keikhlasan, kepedulian, dan kebersamaan baik bagi petugas maupun warga binaan,” ujar Kalapas Sukabumi, Budi Hardiono, dengan mata berbinar melihat kedekatan yang terjalin.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pembinaan di sini tidak hanya soal pengamanan, tapi membentuk karakter dan kepedulian sosial.” cetus Kalapas Budi.
Hari itu, di Lapas Sukabumi, jeruji besi mungkin membatasi fisik mereka, namun kisah keikhlasan Nabi Ibrahim telah membebaskan jiwa-jiwa di dalamnya untuk kembali peduli dan berbagi. Dari balik dinding sunyi ini, mereka belajar bahwa untuk menjadi manusia yang bermanfaat, seseorang hanya perlu satu hal: keikhlasan untuk berubah.





