PenaKu.ID – Kondisi di Tehran, Iran, saat ini jauh dari kata tenang. Suasana kota kini hanya diisi oleh deru mesin pesawat dan ketakutan yang menjalar di setiap sudut jalan.
Bagi warga sipil seperti Baran, seorang pebisnis wanita berusia tiga puluhan, rutinitas harian telah berubah menjadi perjudian nyawa yang mengerikan.
Ketakutan di Balik Pintu Rumah Warga Tehran
Baran mengungkapkan bahwa sejak serangan drone dimulai, tidak ada warga yang berani melangkah keluar rumah. Keluar rumah dianggap sebagai tindakan nekat yang bisa berakhir fatal.
Komunikasi antar teman pun kini hanya berisi pesan singkat untuk memastikan satu sama lain masih bernapas di tengah kesunyian kota yang justru terasa lebih mengintimidasi daripada suara ledakan itu sendiri.
Bayang-Bayang Represi dan Trauma Masa Lalu Warga Tehran
Keadaan semakin pelik karena ketatnya pengawasan aparat keamanan negara. Narasi resmi pemerintah menjadi satu-satunya informasi yang diizinkan beredar, sementara suara-suara kritis dibungkam dengan ancaman penangkapan.
Bagi generasi muda Iran, situasi ini menghidupkan kembali trauma Januari lalu, di mana ribuan orang kehilangan nyawa dalam demonstrasi besar. Kini, mereka hanya bisa bertahan hidup sembari bertanya-tanya apakah hari esok masih menjadi milik mereka.**
