Ragam

Memungut Harapan di Kebun Sawit

Memungut Harapan di Kebun Sawit
Ilustrasi (foto: istimewa)

PenaKu.ID – Pagi masih gelap ketika Agus Mulyana (45) mulai melangkahkan kaki menuju area kebun sawit di Desa Tamansari, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dengan karung lusuh di pundak dan sepatu karet yang mulai usang, ia menyusuri jalan tanah yang licin demi mencari butiran buah sawit yang tercecer di kebun sawit.

Pekerjaan itu telah dijalaninya hampir setiap hari selama ini. Bagi Agus, memulung buah sawit bukan sekadar pekerjaan sampingan, melainkan cara bertahan hidup untuk memenuhi kebutuhan keluarga: anak dan kedua orang tuanya. Karena memang Agus harus menerima takdir tanpa pendamping hidup saat ini. Sang istri telah bertahun-tahun meninggalkannya dengan memilih berpisah dengan Agus dan memilih jalannya sendiri.

“Kalau tidak berangkat pagi, nanti keburu diambil orang lain,” ujar Agus sambil memunguti buah sawit yang jatuh di sela rerumputan.

Setiap hari, Agus berangkat sejak subuh dan pulang menjelang sore. Dalam sehari, ia bisa mengumpulkan beberapa karung buah sawit yang kemudian dijual kepada pengepul. Hasilnya tidak menentu, terkadang hanya cukup untuk membeli beras dan kebutuhan dapur.

Kebun Sawit Ladang Cuan Meski Jauh dari Cukup

Meski penghasilan yang diperoleh jauh dari kata cukup, pria yang tinggal di Pinanggading ini tetap bersyukur. Ia mengaku pekerjaan itu menjadi satu-satunya sumber penghasilan setelah sulit mendapatkan pekerjaan tetap di usianya sekarang.

Di bawah terik matahari, Agus terus berjalan menyusuri kebun sawit. Tangannya yang kasar dan penuh luka menjadi saksi kerasnya perjuangan hidup yang ia jalani. Namun di balik kelelahan itu, tersimpan harapan sederhana agar keluarganya tetap bisa makan dan anak-anaknya terus sekolah.

“Yang penting anak dan orangtua bisa makan. Saya jalani saja semampunya,” katanya pelan.

Warga sekitar mengenal Agus sebagai sosok pekerja keras dan pantang mengeluh. Meski hidup dalam keterbatasan, ia tetap menjalani hari-harinya dengan penuh semangat.

Menjelang sore, Agus mengangkat karung hasil pungutannya ke atas sepeda motor Grandong miliknya dari kebun sawit. Nafasnya terdengar berat, namun wajahnya tetap menyimpan keteguhan. Esok pagi, rutinitas yang sama akan kembali dijalani—memungut harapan di antara buah-buah sawit yang tercecer demi mempertahankan hidup dan menafkahi keluarga.** (tds)

Exit mobile version