Peristiwa

Megathrust Mengancam? Ini Fakta yang Perlu Diketahui

×

Megathrust Mengancam? Ini Fakta yang Perlu Diketahui

Sebarkan artikel ini
Megathrust Mengancam? Ini Fakta yang Perlu Diketahui
Ilustrasi (pexels)

PenaKu.ID – Istilah megathrust kembali menjadi perhatian masyarakat seiring maraknya pembahasan mengenai potensi gempa besar dan tsunami di Indonesia. Sejumlah zona subduksi di Indonesia memang memiliki kemampuan menghasilkan gempa dengan kekuatan sangat besar. Namun, potensi tersebut tidak dapat diartikan sebagai ramalan mengenai waktu terjadinya gempa.

Indonesia berada di kawasan tektonik aktif yang menjadi pertemuan sejumlah lempeng bumi. Kondisi tersebut membuat aktivitas gempa menjadi bagian dari dinamika geologi Indonesia. Salah satu sumber gempa yang dapat menghasilkan energi sangat besar adalah zona megathrust.

Karena itu, informasi mengenai megathrust perlu dipahami secara tepat. Potensi gempa besar merupakan kajian ilmiah, bukan kepastian bahwa gempa akan terjadi pada tanggal, bulan, atau tahun tertentu.

Apa Itu Megathrust?

Megathrust merupakan bidang kontak pada zona subduksi, tempat satu lempeng tektonik bergerak menunjam ke bawah lempeng lainnya.

Pada bagian tertentu, kedua lempeng dapat saling terkunci akibat gesekan. Di sisi lain, pergerakan lempeng tetap berlangsung sehingga tekanan atau tegangan terus terakumulasi. Dalam kondisi tertentu, energi tersebut dapat dilepaskan dan memicu gempa bumi.

USGS menyebut zona megathrust sebagai salah satu sumber gempa terbesar di dunia. Hal itu berkaitan dengan luas bidang patahan yang dapat terlibat dalam suatu peristiwa gempa sehingga memungkinkan terjadinya gempa dengan magnitudo sangat tinggi.

Megathrust Indonesia Bukan Satu Patahan

Istilah megathrust dalam konteks Indonesia tidak merujuk pada satu patahan tertentu. Indonesia memiliki sejumlah zona subduksi yang membentang dari bagian barat Sumatra hingga kawasan timur Indonesia.

Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) memperbarui pemahaman mengenai sumber-sumber gempa di Indonesia. Dalam pemutakhiran tersebut, tercatat 402 sumber gempa, termasuk 11 segmen megathrust di Indonesia.

Sejumlah zona yang selama ini menjadi perhatian meliputi:

zona subduksi di sebelah barat Sumatra;
selatan Jawa;
selatan Bali-Nusa Tenggara;
kawasan Banda;
Laut Maluku;
Laut Sulawesi; dan
wilayah utara Papua.
Setiap Zona Memiliki Karakter Berbeda

Masing-masing zona subduksi memiliki karakteristik yang tidak sama. Potensi magnitudo maksimum serta dampak yang mungkin ditimbulkan terhadap wilayah di sekitarnya juga berbeda.

Karena itu, pembahasan mengenai megathrust tidak seharusnya digeneralisasi seolah-olah seluruh wilayah Indonesia memiliki potensi dan risiko yang sama.

Selat Sunda dan Mentawai-Siberut Jadi Perhatian

Selat Sunda dan Mentawai-Siberut termasuk kawasan yang kerap dibahas dalam konteks potensi gempa megathrust di Indonesia.

BMKG sebelumnya menjelaskan bahwa kedua kawasan tersebut memiliki karakteristik seismic gap, yaitu bagian dari zona subduksi yang berdasarkan catatan sejarah kegempaan tidak mengalami gempa besar dalam periode tertentu.

Informasi mengenai seismic gap penting dalam kajian bahaya gempa. Namun, istilah tersebut tidak dapat dimaknai sebagai pertanda bahwa gempa besar sudah memiliki jadwal atau tinggal menunggu waktu tertentu.

Seismic Gap Bukan Hitungan Mundur Gempa

Hingga saat ini, ilmu pengetahuan belum mampu menentukan secara tepat kapan, di mana, dan berapa besar magnitudo sebuah gempa akan terjadi.

Dengan demikian, klaim yang menyebut gempa megathrust tertentu akan terjadi pada tanggal atau tahun tertentu tidak dapat dianggap sebagai prediksi ilmiah maupun informasi resmi.

Masyarakat perlu berhati-hati terhadap informasi yang mengubah istilah seismic gap menjadi seolah-olah sebuah “hitung mundur” menuju gempa besar.

Skenario Gempa M9 Bukan Ramalan

Kesalahpahaman lain muncul ketika masyarakat menemukan informasi mengenai skenario gempa dengan magnitudo 9.

BMKG memang pernah menggunakan skenario gempa M9,0 di wilayah Megathrust Selat Sunda dalam latihan kesiapsiagaan tsunami IOWAVE25 pada 2025.

Namun, angka tersebut merupakan bagian dari skenario latihan dan bukan prediksi bahwa gempa M9 akan terjadi di Selat Sunda.

Mengapa Skenario Gempa Besar Digunakan?

Latihan dengan skenario gempa besar diperlukan untuk menguji kesiapan berbagai unsur dalam menghadapi kemungkinan bencana.

Pengujian tersebut mencakup sistem peringatan dini, komunikasi antarlembaga, proses pengambilan keputusan, hingga kemampuan masyarakat dalam melakukan evakuasi.

Dengan demikian, penggunaan skenario gempa besar dalam latihan merupakan bagian dari upaya mitigasi dan kesiapsiagaan, bukan pengumuman mengenai waktu terjadinya bencana.

Ancaman Tsunami Tetap Perlu Diwaspadai

Risiko dari megathrust tidak hanya berupa guncangan gempa. Apabila gempa besar terjadi di bawah laut dan menyebabkan perubahan vertikal pada dasar laut, kondisi tersebut dapat memicu tsunami.

Meski demikian, tidak setiap gempa besar otomatis menghasilkan tsunami besar.

Potensi tsunami dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain mekanisme patahan, kedalaman gempa, lokasi sumber, besarnya perubahan dasar laut, serta kondisi dasar laut dan bentuk garis pantai.

Masyarakat Pesisir Perlu Memahami Jalur Evakuasi

Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir, memahami istilah megathrust saja tidak cukup. Pengetahuan mengenai tanda-tanda tsunami dan jalur evakuasi menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan.

BMKG melalui Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) melakukan pemantauan gempa dan potensi tsunami secara terus-menerus. Ketika terjadi gempa yang berpotensi menimbulkan tsunami, informasi resmi dari sistem tersebut menjadi salah satu rujukan utama.

Jangan Mudah Percaya Prediksi di Media Sosial

Maraknya pembahasan mengenai megathrust di media sosial tidak selalu dibarengi pemahaman yang benar mengenai ilmu kegempaan.

Sejumlah klaim perlu diwaspadai, terutama informasi yang menyatakan gempa besar akan terjadi pada tanggal tertentu, anggapan bahwa gempa-gempa kecil merupakan tanda pasti akan datangnya megathrust, hingga klaim bahwa seismic gap merupakan hitungan mundur menuju gempa besar.

Informasi semacam itu tidak memiliki dasar yang cukup untuk digunakan sebagai prediksi gempa.

Gunakan Informasi dari Lembaga Resmi

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada metode yang mampu memprediksi gempa bumi secara tepat berdasarkan waktu, lokasi, dan magnitudo.

Karena itu, masyarakat dianjurkan mengutamakan informasi dari lembaga resmi, seperti BMKG, Badan Geologi, BNPB atau BPBD, serta pemerintah daerah.

Kesiapsiagaan Lebih Penting daripada Menebak Waktu

Ancaman gempa besar merupakan risiko yang tidak dapat dihilangkan. Namun, dampaknya dapat dikurangi melalui kesiapsiagaan dan mitigasi yang baik.

Masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa perlu memahami kondisi lingkungan sekitar, mengetahui jalur evakuasi, memastikan bangunan memenuhi ketentuan keselamatan, serta memahami tindakan yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.

Bagi masyarakat di kawasan pantai, gempa kuat atau gempa yang berlangsung cukup lama harus menjadi alasan untuk segera menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih aman melalui jalur evakuasi yang telah ditetapkan.

Dalam kondisi darurat, masyarakat juga tidak dianjurkan menunggu informasi dari media sosial. Informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah harus menjadi rujukan utama.

Pada akhirnya, megathrust bukan isu yang perlu dihadapi dengan kepanikan. Ancaman tersebut merupakan bagian dari risiko geologi yang perlu dipahami berdasarkan kajian ilmiah dan dihadapi dengan kesiapsiagaan.

Pertanyaan yang lebih penting bukan kapan megathrust akan terjadi, melainkan seberapa siap masyarakat dan pemerintah menghadapi gempa besar apabila suatu saat terjadi.** (tds)