PenaKu.ID – Di tengah lebatnya hutan dan pegunungan Tatar Sunda, tersembunyi sebuah legenda yang hidup turun-temurun, yaitu mitos tentang Maung Hideung. Dalam bahasa Sunda, “Maung” berarti harimau, dan “Hideung” berarti hitam. Sosok ini dipercaya bukan sekadar hewan biasa, melainkan entitas gaib atau jelmaan yang memiliki kekuatan magis dan peran penting dalam keseimbangan alam.
Maung ini sering kali digambarkan sebagai harimau hitam legam dengan mata menyala, ukurannya jauh lebih besar dari harimau biasa. Kehadirannya tidak dianggap sebagai ancaman, melainkan sebagai pertanda atau penjaga.
Sosok ini dipercaya akan muncul di hadapan orang-orang tertentu pada momen-momen krusial, terutama yang berkaitan dengan keadilan dan kelestarian alam.
Maung Hideung sebagai Simbol Keadilan dan Leluhur
Dalam banyak cerita rakyat, maung ini diyakini sebagai jelmaan dari para leluhur atau pendekar sakti yang bertugas menjaga tanah Pasundan. Kemunculannya sering dikaitkan dengan pesan moral.
Ia konon akan menampakkan diri untuk mengingatkan manusia agar tidak merusak alam, berlaku adil, dan tidak melupakan jati diri serta ajaran nenek moyang. Ia adalah simbol keberanian, kekuatan, dan kebijaksanaan.
Fakta di Balik Mitos Maung Hideung
Meskipun maung ini lebih dikenal sebagai mitos, keberadaan harimau dengan variasi warna hitam (melanisme) memang ada secara ilmiah, meskipun sangat langka. Fenomena ini disebabkan oleh kelebihan pigmen hitam pada kulit dan bulu.
Bisa jadi, legenda Maung Hideung terinspirasi dari penampakan langka harimau melanistik di masa lalu, yang kemudian dibumbui dengan unsur-unsur mistis dan spiritual oleh masyarakat setempat, menjadikannya sebuah legenda yang kaya akan makna.**
