PenaKu.ID – Bangladesh tengah menghadapi Krisis energi di tengah lonjakan harga global dan gangguan pasokan internasional. Dalam beberapa bulan terakhir, krisis energi ini memicu pemadaman listrik bergilir, kenaikan harga bahan bakar, hingga terganggunya aktivitas ekonomi di berbagai wilayah.
Ketergantungan tinggi terhadap energi impor menjadi salah satu faktor utama. Pemerintah masih mengandalkan pasokan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan minyak, gas alam cair (LNG), dan batu bara. Ketika pasar global bergejolak akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, dampaknya langsung dirasakan di dalam negeri.
Kenaikan harga bahan bakar domestik pun tak terhindarkan. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap lonjakan biaya impor, namun berimbas pada meningkatnya biaya transportasi dan harga kebutuhan pokok. Kondisi tersebut turut mendorong tekanan inflasi yang semakin dirasakan masyarakat.
Di sisi lain, pasokan listrik belum mampu mengimbangi tingginya permintaan, terutama saat musim panas. Akibatnya, pemadaman listrik bergilir terjadi di sejumlah daerah, dengan wilayah pedesaan dilaporkan mengalami dampak paling besar. Krisis gas turut memperburuk situasi, mengingat sebagian besar pembangkit listrik di negara itu masih bergantung pada bahan bakar tersebut.
Dampak krisis energi juga merambah sektor industri. Industri tekstil—yang menjadi tulang punggung ekspor Bangladesh—mengalami penurunan produksi akibat keterbatasan pasokan energi. Sejumlah pelaku usaha bahkan memilih menunda ekspansi di tengah ketidakpastian kondisi energi.
Tak hanya sektor ekonomi, aktivitas sosial pun terdampak. Pemerintah sempat memberlakukan pembatasan penggunaan energi yang berimbas pada operasional lembaga pendidikan dan layanan publik.
Langkah Menghadapi Krisis Energi di Bangladesh
Berbagai langkah darurat telah ditempuh pemerintah untuk mengatasi krisis energi tersebut, mulai dari penyesuaian harga energi, pembatasan konsumsi, hingga upaya memperoleh pendanaan dari lembaga internasional seperti International Monetary Fund. Namun, sejumlah pengamat menilai kebijakan tersebut masih bersifat jangka pendek dan belum menyentuh akar persoalan.
Masalah mendasar terletak pada struktur energi nasional yang masih didominasi bahan bakar fosil serta terbatasnya pengembangan energi terbarukan. Selain itu, produksi gas domestik yang terus menurun membuat ketergantungan terhadap impor semakin meningkat dari tahun ke tahun.
International Monetary Fund menilai guncangan energi global saat ini menjadi ujian bagi ketahanan ekonomi negara-negara Asia Selatan, termasuk Bangladesh. Tanpa reformasi menyeluruh, risiko krisis serupa diperkirakan akan terus berulang.
Ke depan, Bangladesh dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan model energi lama yang rentan terhadap gejolak global atau mempercepat transisi menuju sumber energi yang lebih berkelanjutan. Langkah tersebut dinilai krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus melindungi masyarakat dari dampak krisis yang lebih dalam.** (tds)
~source: AL-jazeera, Reuters










