PenaRagam
Trending

Komunitas Sunda Perceka Lestarikan Kearifan Lokal

Komunitas Sunda Perceka

PenaKu.IDKomunitas Sunda Perceka Desa Sirnagalih, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus melestarikan kaulinan atau permainan zaman dulu.

Hal itu dilakukan untuk memastikan kaulinan tersebut tetap ada dan tak pernah punah meski pesatnya kemajuan teknologi saat ini.

Kaulinan yang dimiliki orang sunda dulu memiliki aneka ragam keunikan dan kekhasan masing-masing. Sehingga menjadi pembeda dengan jenis pemainan tradisional daerah lainnya.

Keunikan permainan tersebut menjadi alasan utama bagi sejumlah tokoh di Kabupaten Bandung Barat untuk melestarikan budaya kaulinan baheula.

Ketua Komunitas Sunda Perceka Cipeundeuy, Bah Wasna mengatakan, dirinya masih konsisten menjaga dan mengembangkan berbagai kaulinan baheula dari berbagai daerah di Jawa Barat.

“Saya bergerak dibidang pelestarian budaya sunda, seperti sastra, dongeng sunda, aksara sunda, pidato, sajak, dan lain sebagainya, termasuk kaulinan baheula atau kaulinan urang lembur,” kata Bah Wasna, Jum’at (3/9/2021).

Ia menjelaskan, untuk kaulinan lembur sendiri dibagi dua, ada kaulinan lembur yang condong ke olahraga di mana saat ini tengah digaungkan oleh pemerintah melalui Disdik, Dispora, Formi hingga ke tingkat nasional.

“Seperti ada permainan egrang, bakiak, hadangan, sumpitan, dan dogongan,” jelasnya.

Sementara untuk kaulinan lembur yang kedua, kata dia, condong ke arah tari lagu yang jarang sekali ada yang menggarap dan melestarikannya.

“Melihat kondisi kaulinan baheula yang hampir punah, kami bersama Disparbud KBB bersinergi untuk menghelat sebuah kegiatan yang bertajuk Art Festival Kaulinan Lembur,” ujarnya.

Dalam upayanya melestarikan budaya kaulinan baheula, dia mengaku, memiliki konsep yang menjadi pondasi agar budaya kaulinan baheula tetap lestari, yaitu tembongkeun (perlihatkan) pada generasi saat ini bahwa sunda memiliki berbagai macam permainan unik dan khas.

“Ini dilakukan karena generasi saat ini tidak akan pernah tahu adanya permainan tradisional jika tidak diperlihatkan,” ujarnya.

Bah Wasna menyebut, dirinya sudah melestarikan kaulinan baheula hingga 161 jenis permainan.

“Kami dari Sunda Perceka sudah melakukan pencarian dan mendalami kaulinan baheula ini. Termasuk melakukan diskusi dengan para tokoh Sunda yang ada di KBB, serta di kabupaten/kota lainnya,” sebutnya.

Prinsip lainnya, lanjut dia, Ajarkeun (mengajarkan). Artinya, seluruh permainan harus diajarkan, bagaimana cara bermainnya dan cara aturan mainnya seperti apa.

“Ketiga, diigeulkeun (dipentaskan). Hal ini perlu dilakukan agar bisa menjadi daya tarik dan menarik minat untuk memicu semangat para generasi saat ini,” ucapnya.

Ia menilai, dengan dipentaskannya permainan, banyak yang mengundang dirinya mulai dari pemerintah atau pun instansi lainnya.

Bahkan, lanjut dia, zaman sekarang permainan ini bisa dijadikan konten YouTube agar budaya permainan tradisional tempo dulu ini bisa dilihat banyak orang.

“Usai dipromosikan melalui media sosial tersebut, banyak anak muda yang penasaran dan tertarik untuk belajar mereka menjadi bisa. Terlebih, ketika mereka langsung tampil di pentas, antusiasme mereka terhadap kaulinan baheula semakin tinggi,” paparnya.

Dengan begitu, jelas dia, dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, tadinya tidak bisa sehingga menjadi bisa, dari yang awalnya tidak senang menjadi senang lantaran sering dipentaskan.

“Kita tidak bisa menyalahkan juga generasi muda, lantaran kurangnya orang-orang yang ingin melestarikan kaulinan baheula,” jelasnya.

Menurutnya, solusi permasalahan tersebut kembali lagi kepada diri sendiri sebagai orang-orang yang masih peduli untuk melestarikan kaulinan baheula ini.

“Ini soal sejauh mana keinginan kita untuk mengajarkan kaulinan baheula kepada anak muda. Jadi, semua tergantung pada kita semua yang sudah pernah mengalami dan bisa,” tuturnya.

Ia meyakini, jika semua pihak tetap konsisten untuk melestarikan budaya ini dengan sungguh-sungguh. Maka, budaya kaulinan baheula tidak akan punah atau hilang.

“Insyaallah tidak akan pernah kena kalimat jati kasilih ku junti (tuan rumah tersisihkan oleh pendatang). Bakal tetap ajeug (tegak), panceug (teguh) dan tetap ada dalam budaya orang sunda,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan, Disparbud KBB, Usup Suherman mengatakan, budaya kaulinan baheula bukan hanya permainan biasa, namun mengajarkan nilai-nilai filosofi kehidupan yang sengaja ditanamkan sejak dini.

“Kaulinan baheula cenderung memanfaatkan fasilitas lingkungan dengan area yang cukup luas. Hal ini memiliki nilai ekonomi dalam pelaksanaan hiburan,” katanya.

Ia menjelaskan, kaulinan barudak sunda memiliki nilai yang kolektif. Hal itu bisa dilihat dari pelaksanaan permainan tersebut yang selalu melibatkan banyaknya orang untuk bermain.

“Di dalam permainan barudak sunda ada beberapa aspek yang menyimpan nilai yang luhur selain untuk hiburan juga untuk orientasi kreativitas motorik tanpa mempertimbangkan aturan-aturan yang terikat, serta nilai-nilai yang berhubungan dengan aspek sosial, reaksi, dan edukasi,” jelasnya.

Oleh karenanya, lanjut dia, pihaknya terus berupaya agar kaulinan baheula bisa dilestarikan karena merupakan salah satu warisan budaya yang sangat mahal.

“Untuk itu, kita tengah menginventarisir jenis-jenis permainan tradisional yang ada di KBB, yakni permainan yang sudah langka yang harus mulai dilestarikan, direvitalisasi, direkonstruksi dan dikembangkan,” terangnya.

Menurutnya, hal itu penting dilakukan agar generasi muda saat ini bisa mengetahui dan tidak terlalu terpaku pada permainan modern saat ini. Termasuk menarik minat mereka terhadap permainan tradisional yang hampir punah ini.

“Ke depan, kita akan angkat permainan tradisional ini melalui Art Festival Kaulinan Lembur. Biasanya di tahun sebelumnya dilaksanakan ditingkat Bandung dan,” tuturnya.

Ia mengaku, di tengah situasi pandemi sekarang ini tidak memungkinkan dilaksanakannya kegiatan tersebut. Untuk menyiasati hal itu, pihaknya menyelenggarakan kegiatan tersebut secara virtual.

Ia pun menambahkan, kaulinan baheula yang ada di KBB memang harus didokumentasikan. Sehingga, generasi muda bisa lebih mengenal dan mencintai, serta memahami filosofi yang ada di dalamnya.

“Kaulinan baheula memang sangat baik karena ada banyak aspek positif yang terkandung di dalamnya, seperti kreativitas dan kebersamaan,” pungkasnya.

(***Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button