Internasional

Kebuntuan Fatal! JD Vance Tinggalkan Pakistan Usai Negosiasi 21 Jam Gagal Total

×

Kebuntuan Fatal! JD Vance Tinggalkan Pakistan Usai Negosiasi 21 Jam Gagal Total

Sebarkan artikel ini
Kebuntuan Fatal! JD Vance Tinggalkan Pakistan Usai Negosiasi 21 Jam Gagal Total
Kebuntuan Fatal! JD Vance Tinggalkan Pakistan Usai Negosiasi 21 Jam Gagal Total/(instagram)

PenaKu.ID – Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, dilaporkan baru saja lepas landas meninggalkan wilayah Pakistan setelah menjalani serangkaian diskusi panjang dengan risiko yang sangat tinggi.

Pertemuan intensif dengan delegasi Iran tersebut sayangnya berakhir dengan kegagalan total dalam mencapai sebuah draf kesepakatan damai yang diyakini mampu mengakhiri perang.

Berdiri dengan raut wajah tegang di dekat Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan penasihat Gedung Putih Jared Kushner, Vance menyempatkan diri untuk berbicara secara singkat kepada awak media tepat sebelum keberangkatannya.

Kegagalan Eksekusi JD Vance

Dalam konferensi pers yang berlangsung cepat tersebut, Vance membeberkan fakta lapangan yang sangat mengecewakan.

Ia menyatakan bahwa setelah melewati fase perundingan damai selama 21 jam penuh tekanan di Islamabad, baik AS maupun Iran secara resmi telah gagal mencapai kesepakatan untuk menghentikan konflik bersenjata.

“Kami memang telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan pihak Iran, itu adalah berita baiknya. Berita buruknya adalah kami sama sekali belum mencapai kesepakatan apa pun, dan menurut saya secara logis itu adalah berita yang jauh lebih buruk bagi Iran dibandingkan bagi Amerika Serikat,” ungkap Vance secara frontal.

Persoalan Utama JD Vance

Vance menjelaskan inti dari kebuntuan tersebut, “Kami benar-benar tidak bisa mencapai sebuah situasi ideal di mana pihak Iran bersedia menerima syarat-syarat utama kami.”

Ia juga memberikan apresiasi tinggi kepada Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif atas fasilitasi yang luar biasa, terlepas dari hasil yang nihil. Saat dicecar pertanyaan oleh wartawan terkait kapasitas nuklir, Vance menegaskan kembali bahwa menghentikan Iran dari kepemilikan senjata nuklir adalah “tujuan inti” Presiden Donald Trump, yang terus memantau lewat telepon.

“Kami pergi dari sini dengan membawa pemahaman logis bahwa ini adalah tawaran final dan terbaik dari kami. Kita lihat saja apakah ke depannya Iran bersedia menerimanya,” tutupnya.**