PenaKu.ID – Menyambut usia satu abad Nahdlatul Ulama (NU), Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) menggelar refleksi besar bertajuk “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia”.
Momentum bersejarah ini bukan sekadar seremoni, melainkan pernyataan sikap Nahdlatul Ulama untuk tetap menjadi pilar utama penjaga kedaulatan bangsa dan moralitas umat.
Dalam orasi khidmatnya, jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama menekankan bahwa perjalanan 100 tahun pertama Nahdlatul Ulama telah berhasil meletakkan fondasi kebangsaan yang kokoh.
Kini, memasuki abad kedua, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana mentransformasikan kemerdekaan menjadi sebuah peradaban yang dihormati dunia.
NU Menjadi Jangkar Moral Bangsa
“Nahdatul Ulama hadir bukan hanya sebagai penonton sejarah, tapi sebagai penulis sejarah itu sendiri. Di usia satu abad ini, tugas kita adalah memastikan bahwa kemerdekaan Indonesia tetap berada di jalur yang benar, yakni menuju peradaban yang mulia-peradaban yang memadukan kemajuan material dengan keluhuran akhlak,” ujar perwakilan PWNU Provinsi Jawa Barat, H. Eman Sulaeman, S.H kepada awak PenaKu.ID, Minggu (1/2/2026).
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Barat menyoroti bahwa “Peradaban Mulia” yang dimaksud adalah tatanan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah, yakni tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), dan i’tidal (tegak lurus/adil).
Tiga Pilar Transformasi Abad Kedua
Menyongsong masa depan, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Barat menetapkan tiga fokus utama dalam mengawal peradaban:
Transformasi Sumber Daya Manusia: Memperkuat lembaga pendidikan agar mencetak generasi yang mahir teknologi namun tetap berjiwa santri yang tawadhu.
Kedaulatan Ekonomi Umat: Mendorong kemandirian ekonomi sebagai syarat mutlak untuk menjaga martabat dan harga diri bangsa di mata internasional.
Harmoni Sosial: Menjaga tenun kebangsaan dari arus polarisasi dan radikalisme yang dapat mengoyak persaudaraan Ukhuwah Islamiyah maupun Ukhuwah Wathaniyah.
Menuju Indonesia Emas
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Barat juga mengajak seluruh nahdliyin untuk melakukan reorientasi gerakan yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri. Momentum satu abad ini dianggap sebagai titik nol untuk “berlari lebih kencang” dalam memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.
“Peradaban mulia tidak dibangun dengan narasi kebencian, melainkan dengan Akhlakul Karimah. Mari kita jadikan abad kedua Nahdlatul Ulama ini sebagai era kebangkitan peradaban Indonesia yang rahmatan lil ‘alamin,” tutup H. Eman Sulaeman.
Diketahui, Peringatan 1 Abad Nahdlatul Ulama dalam kalender Masehi jatuh pada tanggal 31 Januari 2026. NU didirikan pada 31 Januari 1926, sehingga genap 100 tahun (satu abad) pada 31 Januari 2026.
Puncak perayaan satu abad Nahdlatul Ulama Masehi diisi dengan berbagai kegiatan, termasuk resepsi di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta.
Tanggal Pendirian (Masehi): 31 Januari 1926.
Tanggal 1 Abad (Masehi): 31 Januari 2026.
Tanggal 1 Abad (Hijriah): 16 Rajab 1444 H (bertepatan dengan 7 Februari 2023).
Perayaan 1 abad Masehi ini menandai 100 tahun usia organisasi tersebut dalam kalender Masehi.**










