Peristiwa

Gempa Bumi M5,9 Guncang Sumba Barat Daya NTT

Gempa Bumi M5,9 Guncang Sumba Barat Daya NTT
Gempa Bumi M5,9 Guncang Sumba Barat Daya NTT. /Ilustrasi (pexels)

PenaKu.ID – Gempa bumi mengguncang wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Minggu (4/10/2026) pagi. Guncangan dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah Pulau Sumba dan daerah sekitarnya.

Berdasarkan pemutakhiran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada pukul 05.55.52 WIB atau 06.55.52 WITA. Parameter awal menunjukkan magnitudo 6,1 dengan kedalaman 10 kilometer. Setelah dilakukan analisis lebih lanjut, BMKG memperbarui parameter gempa bumi menjadi magnitudo 5,9 dengan kedalaman 30 kilometer.

Perkembangan terbaru pada Minggu sore menyebutkan seorang warga lanjut usia berusia 73 tahun di wilayah Kodi Utara meninggal dunia setelah gempa terjadi. Menurut kepolisian yang dikutip ANTARA, korban meninggal setelah mengalami kondisi akibat kaget atau shock saat gempa mengguncang wilayah tersebut.

Gempa Bumi Sumba Barat Daya Tak Berpotensi Tsunami

BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Berdasarkan hasil analisis parameter gempa dan pemodelan tsunami, tidak terdapat ancaman tsunami akibat gempa tersebut. BMKG juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah terdampak, tetap diminta waspada terhadap kemungkinan gempa susulan serta menghindari bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan.

Episenter Gempa Bumi Berada di Laut

Berdasarkan parameter terbaru BMKG, episenter gempa berada pada koordinat 9,84 derajat Lintang Selatan dan 118,90 derajat Bujur Timur.

Lokasi tersebut berada di laut, sekitar 59 kilometer barat daya Kodi, Sumba Barat Daya, NTT. BMKG mengategorikan gempa ini sebagai gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas sesar aktif.

Guncangan Gempa Bumi Mencapai VI MMI

Gempa dirasakan cukup kuat di wilayah yang berada dekat dengan pusat gempa.

Berdasarkan analisis BMKG, tingkat guncangan mencapai VI Modified Mercalli Intensity (MMI) di Kodi Balaghar, Kodi Bangedo, dan Kodi.

Pada skala VI MMI, getaran dapat dirasakan oleh seluruh penduduk. Guncangan dapat membuat masyarakat terkejut dan berhamburan keluar rumah. Bangunan dengan konstruksi yang tidak kuat juga berpotensi mengalami kerusakan.

Guncangan juga dirasakan di sejumlah wilayah lain, termasuk Tambolaka, Waikabubak, Waibakul, hingga Raba dengan intensitas lebih rendah.

Data awal BMKG juga mencatat gempa dirasakan di Sumba dan sejumlah wilayah di sekitarnya.

62 Gempa Bumi Susulan Tercatat

Aktivitas seismik masih berlangsung setelah gempa utama. Hingga pukul 08.05 WIB, BMKG mencatat 62 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo berkisar 1,5 hingga 4,3. Jumlah tersebut merupakan data sementara berdasarkan hasil pemantauan pada waktu tersebut dan dapat berubah seiring bertambahnya data monitoring.

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak panik. Kemunculan gempa susulan merupakan fenomena yang dapat terjadi setelah gempa utama, tetapi aktivitas tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk memastikan akan terjadi gempa yang lebih besar.

Sejumlah Bangunan Dilaporkan Rusak

Gempa juga menimbulkan dampak terhadap sejumlah bangunan di Sumba Barat Daya.

BMKG menerima laporan mengenai kerusakan bangunan warga dan fasilitas sekolah, salah satunya di Desa Perokonda, Kecamatan Kodi. Dalam laporan awal juga terdapat informasi mengenai satu orang yang mengalami luka ringan.

Perkembangan di lapangan kemudian dilaporkan oleh aparat kepolisian. Kepolisian Sektor Kodi Utara yang menyebut terdapat sejumlah rumah dan satu bangunan sekolah mengalami kerusakan berat.

Namun, jumlah keseluruhan bangunan yang terdampak masih dalam proses pendataan. Karena itu, angka kerusakan tersebut belum dapat dianggap sebagai data final.

Data Kerusakan Akibat Gempa Bumi Masih Didata

Perbedaan laporan pada tahap awal dan perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa data mengenai dampak gempa masih dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan.

Masyarakat diminta mengikuti informasi terbaru dari BMKG, pemerintah daerah, BPBD, kepolisian, dan instansi resmi lainnya.

Lansia 73 Tahun Meninggal Dunia

Perkembangan terbaru mengenai korban dilaporkan pada Minggu sore. Seorang warga lanjut usia berusia 73 tahun di wilayah Kodi Utara dilaporkan meninggal dunia setelah gempa mengguncang wilayah tersebut.

Menurut keterangan kepolisian, korban sempat ke luar dari rumah bersama anggota keluarganya ketika gempa terjadi. Tidak lama kemudian, korban jatuh dan kehilangan kesadaran hingga akhirnya meninggal dunia.

Kepolisian menyebut korban meninggal akibat kondisi shock atau kaget saat gempa, bukan karena tertimpa reruntuhan bangunan.

Sebelumnya, pada laporan awal pagi hari, belum terdapat informasi mengenai korban meninggal dunia. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa data korban bencana masih dapat berubah mengikuti proses pendataan dan verifikasi di lapangan.

Gempa Bumi Diduga Berkaitan dengan Sesar Waikabubak

BMKG menjelaskan gempa bumi Sumba Barat Daya merupakan gempa tektonik yang berkaitan dengan aktivitas sesar aktif.

Berdasarkan analisis mekanisme sumber, gempa memiliki mekanisme normal fault atau sesar turun. BMKG menyebut sumber gempa diduga berasosiasi dengan aktivitas Sesar Waikabubak.

Analisis tersebut menjadi bagian dari kajian BMKG untuk mengetahui sumber serta mekanisme gempa yang terjadi di wilayah Sumba.

Warga Diminta Hindari Bangunan Rusak

BMKG meminta masyarakat tidak memasuki bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat gempa.

Bangunan yang masih terlihat berdiri belum tentu sepenuhnya aman. Struktur bangunan dapat mengalami pelemahan setelah menerima guncangan sehingga berpotensi membahayakan penghuni.

Masyarakat juga diminta mendapatkan informasi mengenai perkembangan gempa hanya dari kanal resmi BMKG dan instansi pemerintah terkait.

Hingga Minggu sore, informasi yang telah terverifikasi menunjukkan bahwa gempa Sumba Barat Daya tidak berpotensi tsunami, sementara pendataan kerusakan dan dampak terhadap masyarakat masih berlangsung.

Perbedaan angka magnitudo 6,1 dan 5,9 yang beredar juga perlu dipahami sebagai perbedaan parameter awal dan hasil pemutakhiran BMKG, bukan dua kejadian gempa yang berbeda.** (tds)

Exit mobile version