PenaKu.ID – Drama Korea Doctor X: Mafia in White menjadi sorotan setelah sejumlah adegan medis dan penggambaran profesi dokter dalam serial tersebut menuai kritik. Meski memicu perdebatan mengenai akurasi prosedur medis, drama yang dibintangi Kim Ji-won itu tetap mencatatkan performa kuat di Korea Selatan dan pasar internasional melalui Netflix.
Kontroversi ini mengangkat kembali pertanyaan mengenai batas kebebasan kreatif dalam produksi drama medis, terutama ketika cerita fiksi menampilkan prosedur klinis, penanganan pasien, dan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan keselamatan manusia.
Menurut laporan The Straits Times pada 15 Oktober 2026, sejumlah adegan dalam Doctor X dipersoalkan karena dinilai tidak sepenuhnya sesuai dengan praktik medis yang lazim. Kritik juga menyasar penggambaran hubungan antartenaga kesehatan serta proses pengambilan keputusan di lingkungan rumah sakit.
Di tengah polemik tersebut, capaian penonton serial ini tetap menonjol. Laporan Yonhap News Agency pada 21 Oktober 2026 menyebut Doctor X menempati posisi teratas dalam daftar serial televisi non-Inggris Netflix selama dua pekan berturut-turut.
Perbedaan antara respons kritis dan capaian komersial itu menunjukkan bahwa popularitas sebuah drama tidak selalu sejalan dengan penilaian terhadap ketepatan representasi profesi yang ditampilkan.
Sinopsis Doctor X: Kisah Dokter yang Melawan Sistem Rumah Sakit
Doctor X: Mafia in White, yang juga dikenal sebagai Doctor X: The Era of the White Mafia, berpusat pada Gye Su-jeong, dokter bedah berbakat yang diperankan Kim Ji-won.
Sosok dokter jenius yang menentang senioritas
Su-jeong digambarkan sebagai dokter dengan kemampuan medis mumpuni dan pendirian yang kuat. Ia tidak mudah tunduk pada senioritas maupun tekanan struktural di rumah sakit. Dalam menghadapi persoalan klinis, keselamatan pasien dan kompetensi profesional menjadi prinsip yang berusaha dipertahankannya.
Konflik muncul ketika Su-jeong berhadapan dengan lingkungan kerja yang dipenuhi persaingan kekuasaan, kepentingan pribadi, dan keputusan yang dipertanyakan dari sisi profesionalisme. Sikapnya yang kritis membuatnya berseberangan dengan sejumlah tokoh berpengaruh di institusi tersebut.
Salah satu konflik awal berkaitan dengan perbedaan pandangan mengenai tindakan operasi terhadap pasien lanjut usia. Ketegangan meningkat ketika keadaan darurat terjadi selama operasi dan Su-jeong harus mengambil tindakan untuk menyelamatkan pasien.
Adaptasi dari serial Jepang
Selain menyuguhkan ketegangan di ruang operasi, serial ini mengeksplorasi pertentangan antara idealisme dokter dan kepentingan institusi. Cerita tersebut menjadi dasar bagi konflik personal maupun profesional yang dihadapi tokoh utama.
Doctor X merupakan adaptasi dari serial Jepang Doctor-X: Surgeon Michiko Daimon, yang dikenal melalui karakter dokter bedah independen dengan prinsip profesional yang kuat.
Mengapa Doctor X Menuai Kritik Medis?
Sorotan terhadap Doctor X terutama berkaitan dengan kewajaran prosedur medis yang ditampilkan serta cara tenaga kesehatan menjalankan tugasnya dalam cerita.
Prosedur medis dan penanganan pasien dipertanyakan
Dalam laporan yang diterbitkan pada 15 Oktober 2026, The Straits Times menyoroti kritik terhadap sejumlah adegan medis. Salah satu persoalan yang disebut berkaitan dengan penanganan pasien setelah hernia inguinalis berhasil direposisi.
Penggambaran operasi darurat dan keputusan klinis dalam kondisi kritis juga menjadi perhatian. Para pengkritik mempertanyakan apakah adegan-adegan tersebut dapat memberikan gambaran yang tepat mengenai praktik medis kepada penonton.
Meski demikian, kritik terhadap adegan tertentu tidak otomatis membuktikan bahwa keseluruhan serial keliru secara medis. Penilaian yang objektif tetap membutuhkan konteks klinis, rincian tindakan yang diperlihatkan, serta pertimbangan dari tenaga medis yang kompeten.
Permintaan peninjauan siaran diajukan
Polemik tersebut semakin berkembang setelah seseorang yang mengidentifikasi dirinya sebagai dokter spesialis ortopedi dilaporkan mengajukan permintaan peninjauan siaran pada 13 Oktober 2026.
Menurut laporan yang terbit dua hari kemudian, pengajuan tersebut menyoroti dugaan penyimpangan dari realitas medis serta penggambaran aktivitas tenaga kesehatan, termasuk kunjungan dokter kepada pasien atau ward rounds.
Aspek yang dipersoalkan mencakup kemungkinan bahwa representasi tersebut dapat mengaburkan pemahaman penonton mengenai tanggung jawab klinis di rumah sakit.
Namun, permintaan peninjauan tidak sama dengan keputusan resmi regulator. Tanpa informasi mengenai hasil pemeriksaan, belum ada dasar untuk menyatakan bahwa serial tersebut terbukti melanggar ketentuan penyiaran.
Konsultan Medis Ikut Menjadi Perhatian
Selain adegan yang ditampilkan, perhatian publik juga tertuju pada peran konsultan medis selama proses produksi Doctor X.
Masukan dokter dalam proses produksi
Namgung In, dokter spesialis kedokteran emergensi di Ewha Womans University Mokdong Hospital, disebut terlibat sebagai konsultan medis dalam produksi serial tersebut.
Dalam komentarnya, Namgung mengisyaratkan adanya kemungkinan perbedaan pandangan antara konsultan dan tim produksi. Kondisi tersebut dapat membuat sebagian masukan medis tidak diterapkan dalam versi akhir tayangan.
Pernyataan itu memunculkan diskusi mengenai sejauh mana pertimbangan profesional tenaga medis dapat memengaruhi keputusan kreatif dalam sebuah drama.
Konsultan medis dapat membantu memastikan kewajaran prosedur dan istilah yang digunakan. Namun, keterlibatan mereka tidak serta-merta menjamin bahwa seluruh adegan akan sepenuhnya sesuai dengan praktik klinis.
Penyuntingan, kebutuhan dramatik, dan keputusan kreatif tetap berperan dalam menentukan bagaimana adegan disajikan kepada penonton.
Meski demikian, informasi yang tersedia belum cukup untuk memastikan bahwa seluruh adegan yang dipersoalkan muncul akibat keputusan pihak tertentu. Kesimpulan semacam itu memerlukan penjelasan lebih terperinci mengenai proses produksi dan konteks masing-masing adegan.
Penggambaran Dokter dalam Doctor X Picu Perdebatan
Kontroversi serial ini tidak hanya menyangkut prosedur medis, tetapi juga cara cerita menggambarkan karakter dan hubungan kekuasaan di lingkungan rumah sakit.
Konflik antara idealisme dan kepentingan institusi
Tokoh utama ditampilkan sebagai dokter yang kompeten dan berani menentang sistem. Sebaliknya, beberapa karakter lain digambarkan lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau terlibat dalam keputusan yang berpotensi merugikan pasien.
Kontras tersebut memperkuat konflik cerita dan membangun kepuasan dramatik ketika tokoh utama berusaha melawan ketidakadilan. Namun, pendekatan ini juga memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan penyederhanaan realitas profesi medis.
Laporan Maeil Business Newspaper pada 21 Oktober 2026 menyoroti paradoks tersebut, yakni bagaimana konflik yang membuat cerita menarik sekaligus dapat memicu perdebatan mengenai representasi dokter.
Penggambaran tenaga medis yang menyalahgunakan kekuasaan dalam karya fiksi tidak serta-merta berarti seluruh profesi dokter didiskreditkan. Hal yang perlu diperhatikan ialah bagaimana cerita membedakan perilaku individu dari praktik profesi kesehatan secara keseluruhan.
Rating Doctor X di Netflix Tetap Tinggi
Di tengah kritik yang berkembang, Doctor X: Mafia in White tetap menunjukkan daya tarik yang kuat di pasar domestik maupun internasional.
Tembus posisi teratas Netflix
Yonhap News Agency melaporkan pada 21 Oktober 2026 bahwa Doctor X menempati posisi pertama dalam daftar serial televisi non-Inggris Netflix selama dua pekan berturut-turut.
Serial tersebut mencatat 7,1 juta penayangan dalam periode pelaporan yang berakhir pada 18 Oktober 2026. Drama ini masuk dalam daftar 10 besar di 48 negara dan menduduki posisi pertama di tujuh negara.
Capaian itu memperlihatkan jangkauan penonton yang luas di luar Korea Selatan. Namun, data penayangan tidak dapat dijadikan ukuran untuk menentukan benar atau tidaknya kritik mengenai akurasi prosedur medis.
Rating televisi Korea Selatan meningkat
Sementara itu, laporan SBS pada 20 Oktober 2026 menyebut episode keempat Doctor X memperoleh rating nasional rata-rata 18,5 persen, dengan angka tertinggi mencapai 20,8 persen.
Angka tersebut meningkat dibandingkan episode perdana yang mencatat rating 11,4 persen.
Perkembangan rating ini menunjukkan respons penonton yang kuat terhadap serial tersebut. Kendati demikian, popularitas dan ketepatan representasi merupakan dua aspek berbeda yang perlu dinilai berdasarkan indikator masing-masing.
Doctor X dan Batas Kebebasan Kreatif dalam Drama Medis
Polemik Doctor X mencerminkan tantangan yang dihadapi pembuat drama ketika mengangkat profesi yang berkaitan langsung dengan keselamatan manusia.
Di satu sisi, karya fiksi membutuhkan konflik, karakter kuat, dan situasi dramatis untuk mempertahankan perhatian penonton. Di sisi lain, penggambaran tindakan klinis dan keputusan medis perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak membentuk pemahaman yang keliru mengenai praktik kesehatan.
Drama medis memang tidak harus menjadi panduan praktik kedokteran. Namun, ketepatan pada aspek-aspek mendasar tetap penting, terutama ketika serial menampilkan prosedur operasi, keadaan darurat, atau keputusan yang dapat memengaruhi keselamatan pasien.
Kehadiran konsultan medis, riset yang memadai, dan komunikasi yang baik antara tenaga profesional dan tim kreatif dapat membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan cerita dan kewajaran medis.
Hingga laporan-laporan yang menjadi sumber pada Oktober 2026, persoalan yang mengemuka meliputi kritik terhadap akurasi medis, peran konsultan, serta penggambaran profesi dokter. Belum ada keputusan final regulator yang dapat dipastikan berdasarkan informasi tersebut.
Dengan demikian, kontroversi Doctor X: Mafia in White lebih tepat dipahami sebagai perdebatan mengenai batas dramatisasi dan tanggung jawab representasi, bukan sebagai bukti bahwa keseluruhan serial telah dinyatakan melanggar standar medis.
Di tengah rating dan jangkauan internasional yang tinggi, respons terhadap drama ini menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah tayangan tidak hanya berkaitan dengan jumlah penonton. Cara sebuah cerita menggambarkan profesi nyata juga dapat menjadi bagian penting dari diskusi publik yang menyertainya.** (tds)
