PenaRagam
Trending

Cerita di Balik Gunung Pegat, yang Belum Tau Wajib Baca

PenaKu.ID – Ada banyak cerita dan mitos yang selalu menjadi teka-teki bagi kita dari suatu tempat yang dianggap sakral dan mistis, entah itu mitos jalan, jembatan, danau bahkan gunung sekali pun.

Beragam penafsiran dan sugesti pun kerap muncul bila dihadapkan dengan tempat-tempat tersebut. Apalagi bila sudah dilabeli cerita turun-menurun yang membuat kita menjadi penasaran dan mungkin membuat kita tabu untuk melakukan sesuatu di tempat itu.

Sama halnya dengan mitos sebuah gunung yang satu ini. Namanya Gunung Pegat [putus], terletak di wilayah Karang Asem, Karangkembang, Kec. Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Gunung pegat memiliki mitos yang hampir sudah dipercayai oleh warga sekitar dengan kebiasaan melakukan ritual bila melewati gunung tersebut. Khususnya bagi sepasang sejoli atau suami istri.

Baca Juga:

Selain memiliki mitos tersendiri, tentunya tak luput gunug ini pun memiliki keragaman eksotik alam yang indah dan menakjubkan bagi mata yang melihat.

Penuturan dari salah satu tokoh masyarakat Makin (55) warga sekitar lokasi Gunung Pegat mengungkapkan, setiap iring-iringan pengantin yang melewati kawasan gunung pegat sejauh ini harus melepaskan sepasang ayam.

”Sampai sekarang banyak masyarakat yang percaya akan mitos tersebut, namun itu tergantung dari sugesti masing-masing pasangan. Entah itu pasangan dari luar daerah atau orang Lamongan itu sendiri,” kata Makin seperti dilansir jatim.siberindo.

Ia bercerita, sebagian iring-iringan pasangan pengantin bahkan ada yang rela melewati jalan alternatif lainnya agar tidak melewati kawasan Gunung Pegat dengan cara memutar lewat jalan Bojonegoro dan Lamongan kota.

”Memang cukup jauh, namun itu sebagai antisipasi agar tidak sampai melalui jalan tersebut, banyak yang melakukan hal demikian agar pasangan pengantin bisa terhindar serta dijauhkan dari perceraian,” imbuhnya.

Pengamat dan Pemerhati Budaya Lamongan Supriyo mengatakan, sepengetahuannya di sekitaran kawasan Gunung Pegat memang memiliki potensi budaya kepurbakalaan yang cukup tua.

”Disekitar Desa Pucakwangi ditemukan prasasti batu yang diduga berasal dari masa Jenggala (anak Airlangga) juga jejak perkampungan kuno disekitar sendang,” ujar Cak Priyo panggilan akrabnya, Selasa (16/03)

Menurut Cak Priyo, bahkan di Desa Kradenan Rejo juga banyak ditemukan Peninggalan Nekara ( Peninggalan Seni Budaya) yang berasal dari masa Prasejarah pada Zaman Perunggu.

”Mengenai dengan adanya mitos iring-iringan pasangan pengantin yang melewati kawasan Gunung Pegat harus melepas ayam, saya juga mengetahui budaya tersebut,” ujarnya.

Dia menjelaskan, sepertinya mitos yang dipercaya oleh banyak masyarakat hingga kini tersebut berasal dari peristiwa yang sangat jauh di era Jenggala dan Panjalu (Kediri).

”Dua kerajaan hasil pembelahan kerajaan Kahuripan atau Medang masa Erlangga.

Dua kerajaan tersebut selalu berkonflik. Mitos itu sepertinya berhubungan dengan kisah kuno mengenai konflik tersebut,” kata Priyo.

**Redaksi

Related Articles

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button