PenaOpini
Trending

Bisakah Bansos Menyejahterakan Masyarakat ?

Opini: Yuyun Suminah (Member Komunitas Bacayuk Karawang)

PenaKu.ID – Wabah COVID-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia sampai saat ini masih belum menunjukan akan berakhir. Jumlah yang terpapar justru terus meningkat, sehingga mempengaruhi aktivitas masyarakat termasuk aktivitas perekonomian. Berbagai program bantuan dari pemerintah pun digulirkan. Seperti yang dilakukan oleh Kementerian Sosial kembali menggulirkan program bansos (bantuan sosial) untuk warga kurang mampu di tengah pandemi COVID-19.

Di Jawa Barat sendiri, dinas sosial mencatat ada sekitar tujuh juta Kepala Keluarga (KK) yang berhak mendapat bantuan ini. Jumlah tersebut meliputi program keluarga harapan (PKH), bantuan pangan non tunai (BPNT), dan bantuan sosial tunai (BST). (jabarprov.go 09/07/212021)

Adapun bentuk bantuannya masih dalam proses pengkajian antara berbentuk bahan pangan atau tunai. Untuk besaran nominal tunai 200 ribu rupiah sampai 300 ribu rupiah perbulan. Namun, bantuan tersebut apakah diberikan per individu atau per keluarga masih jadi pertanyaan. Dengan jumlah nominal tersebut dinilai belum mencukupi, mengingat kebutuhan bahan pokok serba mahal belum lagi ketika dalam 1 keluarga memiliki jumlah anak lebih dari 2 atau ada anggota keluarga lain dalam satu rumah. Maka besaran bansos sebesar itu kemungkinan belum mencukupi.

Bansos yang diberikan kepada masyarakat terasa masih setengah hati, padahal bansos untuk rakyat sudah menjadi tanggung jawab negara untuk memberikannya. Belum lagi birokrasi yang rumit saat proses pencarian dana atau pendistribusiannya menjadi fakta yang tidak bisa terbantahkan. Ditambah terkuaknya kasus korupsi bansos, semakin menambah rasa sakit hati masyarakat.

Seperti itulah fenomena bansos dalam sistem kapitalis. Sistem yang menjadikan manfaat sebagai asas berpikirnya. Tatkala ada manfaat di situ, maka itulah yang dilakukan. Sekalipun harus bertentangan dengan norma sosial dan aturan agama. Terlebih sistem kapitalis adalah sistem yang pengaturannya dilakukan oleh akal manusia. Seperti kita tahu akal manusia punya keterbatasan. Untuk menentukan kriteria penerimanya juga masih banyak pertimbangan seperti mengukur tingkat miskin dengan tidak adil. Itu menunjukan kegagalan sistem kapitalisme dalam menyejahterakan rakyatnya.

Lain sistem lain tentu lain pula aturannya begitu juga dengan sistem Islam dengan pengaturan bansos sesuai landasan syariat. Dalam sistem Islam bansos diberikan bukan hanya ketika terjadi wabah saja namun saat tidak terjadi wabah pun negara akan memberikan kepada rakyat yang membutuhkan. Tidak “pandang bulu” muslim maupun nonmuslim semua mendapatkan haknya.

Adapun besaran nominalnya disesuaikan dengan kebutuhan keluarga masing-masing. Keluarga dengan banyak anggota dan dengan yang anggota keluarga yang sedikit. Bantuan yang diberikan pun tidak hanya ketika terjadi wabah saja ketika tidak ada wabah pun akan tetap diberikan kepada rakyat. 

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta-minta) karena ia memelihara dirinya dari perbuatan itu.” (QS Adz Dzariyat:19)

Seperti yang pernah dicontohkan pada masa kepemimpinan Umar Bin Khatab saat terjadi musim paceklik di Jazirah Arab. Beliau menunjuk empat pejabat khusus untuk mengurusi distribusi makanan ke pelosok Madinah. Bahkan beliau terjun langsung ke lapangan demi memastikan semua penduduk mendapat bantuan makanan yang diberikan negara.

Itu semua ditopang oleh sistem ekonomi yang mandiri dan berdaulat artinya negara sendiri yang mengatur dan mengelola segala jenis penghasilan ekonomi. Adapun sistem ekonomi dalam Islam berkonsep syariat yaitu baitulmal, segala jenis pemasukan akan dikelola sepenuhnya oleh negara. Di antara jenis pemasukannya dari SDA (sumber daya alam) mulai dari hasil laut, bumi dan lain-lain. 

SDA tersebut masuk ke dalam kepemilikan umum yang nantinya akan dirasakan oleh seluruh rakyat, pengelolaannya pun tanpa bantuan swasta atau asing.

Ketika syariat Islam diterapkan dalam kehidupan tidak hanya prihal ibadah termasuk bermasyarakat dan bernegara maka Allah menjamin kesejahteraan akan dirasakan oleh seluruh penduduk bumi. 

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (TQS. Al-araf : 96)

wallahua’lam.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button