PenaRagam
Trending

Berburu Piringan Hitam dan Kaset Pita di Kota Bandung

PenaKu.IDDunia digital telah memasuki ke semua tataran dan ruang kehidupan manusia secara umum. Termasuk ke ranah hiburan dan musik yang telah berevolusi dengan masif dan drastis. Dunia musik kini tak seperti dulu, di mana instrument seperti kaset-kaset pita, kepingan kaset-kaset CD dan piringan hitam sudah lama ditinggalkan khalayak. Seperti itulah adanya ekosistem yang terjadi di dunia musik saat ini.

Berbicara ekosistem tentu tak luput dengan jejak, peninggalan serta hierarki. Pun demikian dengan jejak piringan hitam, kaset pita dan compact disk (CD). Meski kini ketiganya sudah jarang digunakan, namun ternyata berbeda bagi seorang Teguh priyatno, pengoleksi dan sekaligus penjual kaset-kaset ini di Kota badung. Di sinilah jejak dan hierarki tersebut bisa ditemui.

Teguh mencuri peluang di dalam dunia yang memang dipandang tak lagi menjanjikan layaknya satu dasawarsa silam. Namun, ternyata tanpa diprediksi, dirinya bisa meraup untung dari bisnis yang kini ia tengah jajaki dengan jual-beli kaset-kaset tersebut.

Tak tanggung-tanggung, setelah enam bulan Teguh mengukir bisnisnya ini, Teguh kini telah memiliki koleksi kaset sebanyak 4000 keping dengan mengantongi pundi-pundi rupiah dari jualannya itu.

“Dengan modal nekat modal seneng saya udah punya stok dan koleksi kaset-kaset sebanyak 4000 keping,” ujar Teguh saat diwawancarai di KIOS RAGA MUSIK tempat usahanya di Jalan Ibu Inggit Ganarsih No. 10 Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (27/2/21) malam.

Tidak ada kata pesimis, itulah yang tercetus dari Teguh ketika dikuliti seputar perjalanannya terjun menjadi seorang kolektor dan penjual kaset-kaset klasik dan jadul.

Untung rugi baginya tidak masuk dalam spekulasi pada awalnya. Yang jelas menurut Teguh, ketika kepuasan dan hobinya terpenuhi, itulah value yang lebih dari sekedar untung dalam bentuk rupiah.

Di kiosnya itu, sederet album-album lawas dari mulai kaset pita dan kaset piringan hitam ia pajang dengan rapih dengan berbagai genre musik. Baik musik nasional maupun musik barat dan mancanegara. Dari mulai album Koes Plus hingga Doel sumbang ia miliki. Dari mulai genre barat, clasis, country, rok , dan melayu ia jual.

Bahkan, satu penjualan kaset piringan hitam ada yang mencapai jutaan rupiah. Begitu juga dengan kaset pita, ada yang bisa mencapai harga 50 ribu rupiah hingga 500 ribu rupiah.

“Yang membedakan harga itu variatif. Misal label produksinya,” kata Teguh.

Teguh hanya mengoleksi kaset-kaset asli dan orisinil. Dan mengoleksi kaset-kaset lawas dan klasik. Ia beranggapan hal itu akan menjadi nilai tambah bagi hobi dan bisnisnya itu.

Bisnis Piringan Hitam di Masa Pandemi

Kali ini Teguh memanfaatkan dunia digital dengan memperluas penjualan piringan hitam dan koleksi kasetnya itu dengan menggunakan bermacam flatform medsos seperti aplikasi Whatsapp, Facebook dan Instgaram. Telebih Pandemi mengajarkan agar disiplin protokol kesehatan dapat diterapakan dalam perilaku kehidupan. Termasuk dalam menjalani usaha yang bergeser pada penjualan online dengan mengurangi interaksi sosial.

Dibanding calon pembeli yang datang ke kios kasetnya itu, Teguh lebih disibukan transaksi melalui online.

Dikatakannya, dalam sehari tak pernah luput pembeli yang memesan kaset-kasetnya itu dari WA, IG dan FB.

Sehari saja Teguh mengaku bisa mendapatkan ratusan ribu rupiah dari penjualan onlinenya itu. Bahkan, jika pesanan lagi ramai dirinya mengaku keteteran dalam mengemas barang untuk dipaketkan ke delivery [pengiriman].

“Ke Bali, Batam, Pangkalpinag dan Lombok.”

Bahkan, tak hanya di dalam negeri, orderannya pun sampai ke luar negeri, “Singapore, Jepang dan Brunei itu pernah ada yang order dari sana,” kata Teguh.

Untuk diketahui, selain di Kios Kaset Teguh yang berada di Jalan Ibu Inggit Ganarsih, kios kaset-kaset klasik tersebut juga dapat ditemui di daerah Cikapundung dan Dewi Sartika Kota Bandung Jawa barat.

**T-De

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button