PenaKu.ID – Kabupaten Bandung Barat (KBB) Jawa Barat masih menghadapi tantangan besar dalam upaya menekan angka stunting atau tengkes. Selama dua tahun berturut-turut, yakni pada 2024 dan 2025, daerah tersebut tercatat sebagai wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi di Jawa Barat.
Kondisi itu mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat memperkuat kolaborasi dengan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) dan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) melalui program edukasi gizi bagi masyarakat.
Salah satu langkah yang dilakukan ialah penyelenggaraan kegiatan Edukasi Gizi dan Penggunaan Kental Manis yang digelar melalui kerja sama Pemkab Bandung Barat, Muslimat NU, dan YAICI.
Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail, mengatakan kehadiran Pengurus Pusat (PP) Muslimat NU di Bandung Barat tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga bagian dari upaya bersama dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, terutama ibu dan anak.
“Kami menyambut baik kedatangan PP Muslimat NU yang memberikan pendidikan dan edukasi terkait pentingnya gizi serta pemahaman mengenai peruntukan kental manis. Ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Kabupaten Bandung Barat,” ujar Asep usai kegiatan Edukasi Gizi dan Peruntukan Kental Manis, Selasa (21/7/2026).
Kolaborasi Jadi Kunci Penanganan Stunting
Asep menegaskan penanganan stunting tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah. Menurutnya, keterlibatan berbagai elemen masyarakat sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak memasuki masa pertumbuhan.
Ia mengakui tingginya angka stunting di Bandung Barat menjadi perhatian serius yang harus segera ditangani secara bersama.
“Salah satu yang paling pokok karena tahun 2024 maupun 2025, Bandung Barat masih menjadi daerah dengan masalah stunting tertinggi di Jawa Barat,” katanya.
Menurut Asep, sinergi dengan organisasi kemasyarakatan, termasuk Muslimat NU, menjadi strategi penting agar edukasi mengenai gizi dan pola hidup sehat dapat menjangkau lebih banyak keluarga.
“Dengan kolaborasi bersama Muslimat NU, kita memberikan edukasi gizi sekaligus pemahaman tentang pentingnya pola hidup sehat bagi ibu hamil. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu upaya untuk mengentaskan stunting di Bandung Barat,” tuturnya.
Pemkab Instruksikan Penguatan Pendampingan Masyarakat
Selain menggelar sosialisasi, Pemkab Bandung Barat juga memperkuat pendampingan kepada masyarakat melalui perangkat daerah terkait.
Asep mengungkapkan telah menginstruksikan Asisten Daerah I, Dinas Kesehatan, serta Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) untuk terus berkolaborasi dengan Muslimat NU dalam memberikan edukasi mengenai pemenuhan gizi dan penggunaan kental manis sesuai peruntukannya.
“Saya sudah menyampaikan kepada Asda I, Dinas Kesehatan, dan Kesra supaya bisa berdampingan dan berkolaborasi memberikan edukasi gizi serta pemahaman tentang peruntukan kental manis kepada masyarakat Bandung Barat,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan stunting tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan pangan, tetapi juga berkaitan erat dengan pola konsumsi keluarga, tingkat pengetahuan orang tua, dan pemahaman masyarakat terhadap kebutuhan gizi anak.
Program Edukasi Gizi Telah Menjangkau 24 Provinsi
Dalam kegiatan tersebut disampaikan bahwa program edukasi gizi yang diinisiasi Muslimat NU bersama YAICI telah menjangkau 24 provinsi di Indonesia.
Bandung Barat menjadi salah satu daerah di Jawa Barat yang dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program tersebut. Sebelum kegiatan utama berlangsung, tim PP Muslimat NU bersama YAICI juga melakukan kunjungan ke pondok pesantren salafi serta keluarga yang memiliki anak dengan indikasi stunting.
Kunjungan itu menunjukkan bahwa persoalan stunting masih ditemukan di berbagai lapisan masyarakat sehingga diperlukan upaya penanganan yang berkesinambungan.
Stunting Ancam Kualitas SDM Masa Depan
Asep menegaskan bahwa tantangan utama saat ini bukan sekadar menurunkan angka stunting dalam statistik, melainkan memastikan setiap keluarga memahami pentingnya pemenuhan gizi, penerapan pola hidup sehat, dan pola asuh yang baik sejak masa kehamilan.
“Sebab, stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak yang tidak sesuai usia. Di baliknya terdapat ancaman terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan. Ketika persoalan itu tidak segera ditangani, dampaknya dapat berlangsung jauh lebih panjang dibandingkan masa pertumbuhan seorang anak,” pungkasnya.**











