Internasional

Anak-Anak di Afghanistan Jadi Korban Krisis

×

Anak-Anak di Afghanistan Jadi Korban Krisis

Sebarkan artikel ini
Anak-Anak di Afghanistan Jadi Korban Krisis
Ilustrasi (foto: istimewa)

PenaKu.ID – Krisis kemanusiaan yang terus memburuk di Afghanistan memaksa sebagian keluarga mengambil langkah ekstrem demi bertahan hidup. Di tengah kemiskinan yang semakin dalam, sejumlah orang tua dilaporkan menjual anak mereka untuk memperoleh uang guna membeli makanan dan memenuhi kebutuhan dasar keluarga.

Berbagai laporan media internasional dan lembaga kemanusiaan menyebut praktik tersebut kembali meningkat dalam beberapa waktu terakhir seiring memburuknya kondisi ekonomi negara itu. Anak perempuan menjadi kelompok paling rentan karena banyak di antara mereka dijual melalui praktik pernikahan usia dini.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan jutaan warga Afghanistan kini berada dalam kondisi rawan pangan. Tingginya angka pengangguran, melonjaknya harga kebutuhan pokok, serta menurunnya bantuan internasional membuat banyak keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Reuters melaporkan, berkurangnya dana bantuan global menyebabkan distribusi makanan dan layanan kemanusiaan di Afghanistan semakin terbatas. Situasi tersebut memperparah penderitaan masyarakat yang sebelumnya sudah hidup dalam kemiskinan berkepanjangan.

Di sejumlah daerah pedesaan, keluarga miskin disebut mulai menjual harta benda, berutang, hingga menikahkan anak mereka demi mendapatkan uang tunai. Dalam beberapa kasus, anak-anak dijanjikan kepada pria dewasa sebagai bagian dari transaksi pernikahan.

Laporan BBC dan Afghanistan Analysts Network mengungkap banyak kepala keluarga merasa tidak lagi memiliki pilihan lain untuk menyelamatkan anggota keluarganya dari ancaman kelaparan. Sebagian dari mereka mengaku tidak memiliki pekerjaan tetap maupun akses terhadap bantuan pangan.

Anak-anak di Afghanistan Terancam Kehilangan Masa Depan

UNICEF memperingatkan jutaan anak di Afghanistan kini menghadapi ancaman serius, mulai dari malnutrisi, eksploitasi, perdagangan manusia, hingga putus sekolah. Anak perempuan dinilai berada dalam posisi paling rentan karena tekanan ekonomi turut mendorong lonjakan praktik pernikahan anak.

Selain krisis ekonomi, Afghanistan juga dibayangi dampak kekeringan, bencana alam, serta kembalinya jutaan pengungsi dari Iran dan Pakistan. Kondisi itu semakin menekan keluarga miskin yang sejak lama hidup dalam keterbatasan.

Organisasi kemanusiaan internasional menyebut bantuan yang tersedia saat ini belum mampu menjangkau seluruh warga yang membutuhkan. Sejumlah pusat layanan kesehatan dan bantuan gizi anak bahkan dilaporkan mengurangi operasional akibat keterbatasan pendanaan.

PBB memperingatkan kondisi Afghanistan berpotensi semakin memburuk apabila dukungan kemanusiaan internasional terus berkurang. Tanpa bantuan yang memadai, jutaan anak di negara tersebut terancam kehilangan akses terhadap masa depan yang layak.

Fenomena penjualan anak di Afghanistan kini menjadi gambaran nyata krisis kemanusiaan yang semakin dalam. Di balik setiap kasus, terdapat keluarga yang hidup tanpa kepastian pekerjaan, akses pangan, maupun harapan untuk keluar dari kemiskinan.**