PenaKu.ID – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase kritis yang sulit ditebak. Pada Selasa malam, Donald Trump sempat membawa angin segar bagi pasar minyak dunia setelah mengumumkan penangguhan “Project Freedom”—sebuah misi pengawalan kapal di Selat Hormuz.
Langkah ini diambil karena adanya klaim kemajuan menuju kesepakatan final dengan Iran. Namun, harapan akan perdamaian tersebut rupanya hanya bertahan sekejap mata.
Sinyal Damai dari Meja Perundingan Trump di Pakistan
Informasi dari sumber mediator di Pakistan sempat memperkuat optimisme bahwa kedua negara hampir mencapai kesepakatan satu halaman untuk mengakhiri perang di Teluk. Bahkan, pihak Iran pada Rabu menyatakan sedang meninjau proposal baru dari Washington.
Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, sempat mengumumkan di Gedung Putih bahwa “Operation Epic Fury” atau serangan militer terhadap Iran telah berakhir. Pernyataan ini sempat menenangkan gejolak harga energi global secara signifikan.
Retorika Keras Trump dan Ancaman Bom Intensitas Tinggi
Ironisnya, belum genap 24 jam setelah sinyal damai itu muncul, Trump tiba-tiba mengubah nada bicaranya melalui platform Truth Social pada Rabu pagi. Ia menyebut bahwa kesepakatan dengan Iran barulah sebuah “asumsi besar”.
Secara terang-terangan, ia mengancam jika negosiasi menemui jalan buntu, AS akan kembali melakukan pengeboman dengan level dan intensitas yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Perubahan sikap yang drastis ini kembali memicu ketidakpastian besar bagi stabilitas keamanan internasional.**








