PenaKu.ID – Kematian AJ, bocah berusia 11 tahun, mengguncang publik Teheran setelah ia dilaporkan tewas dalam serangan udara saat menjaga pos keamanan bersama ayahnya.
Insiden yang terjadi pada 11 Maret 2026 ini mengungkap fenomena baru mengenai rekrutmen anak-anak ke dalam layanan keamanan sukarelawan di bawah naungan milisi Basij.
Program “Homeland Defender Fighters” untuk Anak Teheran
Pihak IRGC mengonfirmasi adanya program baru bernama Homeland Defender Fighters for Iran yang membuka pendaftaran bagi sukarelawan berusia 12 tahun ke atas.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan anak yang lebih muda pun sudah terlibat dalam tugas patroli. Ibu Alireza menceritakan bahwa suaminya mengajak sang anak karena kurangnya personel di pos pemeriksaan, sebuah tindakan yang berujung maut akibat dugaan serangan drone.
Reaksi Internasional dan Klaim Militer di Teheran
Media lokal menyebut serangan tersebut berasal dari drone Israel, namun pihak militer Israel menyatakan tidak bisa memverifikasi klaim tersebut tanpa koordinat yang jelas.
Kejadian ini memicu debat besar mengenai etika menempatkan anak-anak di garis depan pertahanan kota. Keinginan Alireza untuk menjadi “martir” yang dikutip ibunya mencerminkan indoktrinasi mendalam yang kini terjadi pada generasi muda di wilayah konflik tersebut.**







