PenaOpini
Trending

Tantangan Zaman Digital Bagi generasi Z

Oleh: Dina Martha Tiraswati, M.Pd. (Pengawas SMK Cadisdik Wilayah I Provinsi Jawa Barat)

PenaKu.ID – Pendidikan di era kekinian sudah melibatkan peserta didik generasi Z (lahir tahun 1995-2010). Di mana, dalam belajar mereka cenderung menyukai hal-hal yang bersifat aplikatif dan menyenangkan. Metode pembelajaran yang dikembangkan pun harus mampu mengakomodasi kecenderungan cara belajar yang mereka miliki.

Salah satunya, melalui pendekatan pembelajaran berpusatkan model (PBM). Yaitu, pembelajaran yang menggunakan model, perangkat yang dikonstruksi, dan simulasi dinamika sistem untuk menghasilkan penyajian beragam untuk menolong siswa dalam mengembangkan pengertian fenomena yang kompleks dan dinamis generasi Z atau disebut iGeneration (generasi net atau generasi internet).

Saat ini, mereka rata-rata berstatus pelajar di sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas atau sebagian kecil sudah menjadi mahasiswa.

Generasi Z sejak lahir sudah akrab dengan teknologi informasi. Oleh karena itu, mereka sangat menguasai pemanfaatan internet melalui gadget dan lainnya. Mereka beraktivitas, bermain, dan belajar memakai gadget maupun komputer/laptop.

Mereka sangat mahir berselancar di dunia maya, mencari serta menggali ilmu pengetahuan, bermain games, dan lainnya dengan memanfaatkan internet.

Tampaknya, mereka sudah memilki dunia sendiri yang sangat berbeda dengan dunia yang dilihat, dirasakan, dan dialami generasi sebelumnya. Generasi Z memiliki karakteristik berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya.

Berikut karakteristik generasi Z:

  1. Fasih Teknologi
    Mereka adalah “generasi digital” yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi serta berbagai aplikasi komputer. Mereka dapat mengakses beragam informasi yang mereka butuhkan secara mudah dan cepat, baik untuk kepentingan pendidikan maupun kesehariannya.
  2. Sosial
    Mereka sangat intens berinteraksi melalui media sosial dengan semua kalangan. Khususnya dengan teman sebaya melalui berbagai situs jejaring, seperti Facebook, Twitter, atau SMS. Melalui media ini, mereka bisa mengekspresikan perasaan dan pikirannya secara spontan.
  3. Ekspresif
    Mereka cenderung toleran dengan perbedaan kultur dan sangat peduli lingkungan.
  4. Multitasking
    Mereka terbiasa dengan berbagai aktivitas dalam satu waktu. Mereka bisa membaca, berbicara, menonton, atau mendengarkan musik dalam waktu bersamaan. Mereka menginginkan segala sesuatu dapat dilakukan dan berjalan serbacepat. Mereka tidak suka hal bertele-tele dan berbelit-belit.

Baca juga:

Dengan karakteristik tersebut, generasi Z tidak sulit mengikuti maraknya dunia virtual. Di mana, saat ini pemerintah pusat gencar berkampanye untuk dunia digital.

Kementerian Komunikasi dan Informatika pun menyelenggarakan peluncuran program Literasi Digital Nasional dengan tema “Indonesia Makin Cakap Digital”. Materi yang diajarkan pada program ini berupa literasi dan kecakapan digital tingkat dasar. Termasuk tentang fotografi, videografi, media sosial, dan berbicara di depan umun.

Sejak pandemi COVID-19, ada dampak positif terhadap kehidupan di Indonesia. Yakni, mendorong setiap orang beraktivitas, berinteraksi, dan bermigrasi ke ruang digital. Begitu pula dengan proses pembelajaran yang dialami generasi Z, mereka mengikuti pembelajaran jarak jauh secara daring.

Generasi Z mempunyai sifat mandiri dalam mengambil keputusan atau melakukan sesuatu. Mereka tidak akan segera percaya terhadap informasi yang didapat dari orang lain, sekalipun dari teman, guru ataupun orang tua. Ketika menerima suatu informasi, mereka akan segera mengecek kebenarannya melalui internet.

Informasi yang disediakan oleh media-media yang telah dikenal reputasinya akan menjadi referensi utama mereka. Maka, literasi digital sangat penting karena penggunaan berbagai aplikasi dalam pembelajaran, di mana mereka harus diperkenalkan dengan empat pilar utama dalam program literasi digital nasional. Yaitu, etis bermedia digital, aman bermedia digital, cakap bermedia digital, dan budaya bermedia digital.

Sehingga, diharapkan generasi Z lebih bijak menggunakan aplikasi digital. Tidak hanya membaca informasi berdasarkan judul berita, tetapi tidak dipahami isinya.

Generasi Z harus bisa mengambil peluang dengan mengikuti kelas pelatihan literasi digital Indonesia Makin Cakap Digital secara gratis di sepanjang tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Melalui kelas-kelas ini, mereka dapat mengembangkan literasi dan kecakapan digital di tingkat dasar. Di antaranya, fotografi dan videografi, media sosial, public speaking, tangkas digital dan tular nalar bersama Google, copy writing, digital marketing, privasi digital dan keamanan siber serta materi lainnya.

Harapannya, gerakan Indonesia Makin Cakap Digital semakin digaungkan kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya generasi Z agar mereka bisa memanfaatkan teknologi informasi ini untuk pembelajaran dan bisa meningkatkan kesejahteraan.

Mereka bisa memanfaatkan teknologi informasi tersebut. Antara lain, untuk jualan online, membuat konten-konten positif, seperti membuat video/film, musik, grafis, atau tulisan positif yang bisa menghasilkan karya atau income (penghasilan).

Semoga, Indonesia Makin Cakap Digital dapat meningkatkan kemampuan masyarakat, termasuk generasi Z yang berliterasi secara digital dalam memanfaatkan teknologi informasi sehingga memberikan dampak positif bagi kemajuan bangsa Indonesia.

***

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button