PenaKu.ID – Presiden AS Donald Trump baru saja menegaskan posisinya terkait konflik panas dengan Iran. Dalam percakapan telepon dengan presenter Fox News, Martha MacCallum, pada Rabu pekan ini, Trump menyatakan bahwa dirinya sama sekali tidak berada di bawah tekanan waktu untuk mengakhiri masa perpanjangan gencatan senjata.
Alih-alih terburu-buru, ia lebih memprioritaskan tercapainya “kesepakatan yang bagus” bagi kepentingan Amerika Serikat.
Garis Donald Trump dan Ambisi Nuklir Teheran
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, memperkuat pernyataan tersebut pada hari yang sama. Ia menjelaskan bahwa negosiasi masih berlangsung, namun Trump telah menetapkan red lines atau garis merah yang sangat jelas.
Tuntutan utama Washington adalah agar rezim Iran menyerahkan seluruh simpanan uranium yang telah diperkaya kepada pihak AS. Selama syarat ini belum terpenuhi, posisi AS tetap akan bertahan pada tekanan diplomatik yang kuat.
Kebuntuan Komunikasi Donald Trump di Internal Iran
Alasan lain di balik keputusan Trump memperpanjang gencatan senjata adalah ketidakmampuan Teheran dalam memberikan respons tunggal.
Menurut Leavitt, pihak Iran belum bisa mengirimkan pesan yang bersatu dari internal rezim mereka. Sambil menunggu jawaban pasti dari Teheran, Washington memilih untuk memantau situasi tanpa memberikan beban deadline baru yang bisa memicu eskalasi prematur di kawasan Timur Tengah.**






