PenaKu.ID – Seringkali kita merasa lebih sensitif atau “sumbu pendek” saat perut kosong.
Namun, esensi puasa justru terletak pada kemampuan menjaga lisan dan hati. Mengendalikan amarah di bulan Ramadan adalah ujian kesabaran yang jauh lebih berat daripada sekadar menahan haus.
Menjadikan Sabar untuk Mengendalikan Amarah Saat Puasa
Amarah sering kali muncul dari ekspektasi yang tidak terpenuhi. Ramadan melatih kita untuk menerima keadaan dengan lapang dada.
Saat seseorang memancing emosi, kalimat “Aku sedang puasa” menjadi pengingat bahwa ketenangan jauh lebih berharga daripada kemenangan dalam debat.
Dampak Psikologis saat Mengendalikan Amarah Saat Puasa
Ketenangan yang terjaga selama 30 hari akan membentuk pola pikir baru. Kita belajar bahwa merespons segalanya dengan amarah hanya akan menguras energi.
Dengan menjaga hati tetap dingin, kualitas ibadah dan hubungan sosial kita pun meningkat drastis.**









