Ekonomi

Saham BUMI Masuk Zona Merah, Pasar Panik?

×

Saham BUMI Masuk Zona Merah, Pasar Panik?

Sebarkan artikel ini
Saham BUMI Masuk Zona Merah, Pasar Panik?
Saham BUMI Masuk Zona Merah, Pasar Panik? /Ilustrasi (pexels)

PenaKu.ID – PT Bumi Resources Tbk kembali menjadi sorotan pasar setelah harga sahamnya mengalami tekanan tajam dalam beberapa waktu terakhir. Saham emiten batu bara milik Grup Bakrie tersebut melemah seiring derasnya aksi jual investor asing dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap evaluasi indeks global MSCI.

Informasi dihimpun, pada perdagangan awal Mei 2026, saham BUMI tercatat turun hingga berada di kisaran Rp216 per saham. Posisi tersebut merosot jauh dibanding level tertingginya pada awal tahun yang sempat menyentuh sekitar Rp480 per saham.

Tekanan terhadap saham tersebut mulai terlihat ketika investor asing ramai-ramai mengurangi kepemilikan mereka. Kondisi itu dipicu respons pasar terhadap ketidakpastian evaluasi MSCI terhadap sejumlah saham di pasar berkembang, termasuk saham-saham berkapitalisasi besar di Indonesia.

Sebelumnya, saham BUMI sempat mencatat reli kuat pada awal 2026. Penguatan itu ditopang sentimen positif terkait ekspansi bisnis perseroan ke sektor mineral, ditambah spekulasi masuknya saham BUMI ke dalam indeks MSCI. Namun, euforia pasar tidak bertahan lama setelah investor mulai melakukan aksi ambil untung.

Faktor Saham BUMI Anjlok

Sejumlah analis menilai volatilitas saham tersebut saat ini dipengaruhi dominasi transaksi jangka pendek. Pergerakan harga yang fluktuatif membuat saham tersebut menarik bagi trader, tetapi di sisi lain meningkatkan risiko bagi investor ritel.

Selain faktor eksternal, tekanan juga datang dari aksi distribusi yang dilakukan sejumlah investor institusi besar. Beberapa laporan pasar menyebut investor global mulai mengurangi eksposur mereka terhadap saham BUMI sepanjang kuartal pertama 2026. Situasi itu memperbesar tekanan jual di pasar.

Meski sahamnya mengalami pelemahan, fundamental operasional BUMI dinilai masih relatif stabil. Perseroan disebut tetap mencatat penjualan batu bara yang solid di tengah permintaan energi global yang masih tinggi. Kondisi tersebut membuat sebagian analis masih mencermati peluang pemulihan saham BUMI dalam jangka menengah.

Namun, pelaku pasar diperkirakan tetap bersikap hati-hati. Pergerakan dana asing, dinamika harga batu bara global, serta keputusan MSCI dalam beberapa bulan mendatang dipandang menjadi faktor utama yang akan menentukan arah pergerakan saham BUMI selanjutnya.** (tds)