Politik

Safari Spiritual di Kaki Gunung Gede: Kala Bahlil Lahadalia Mengetuk Pintu Langit di Ponpes Azzainiyyah Sukabumi

×

Safari Spiritual di Kaki Gunung Gede: Kala Bahlil Lahadalia Mengetuk Pintu Langit di Ponpes Azzainiyyah Sukabumi

Sebarkan artikel ini
Safari Spiritual di Kaki Gunung Gede: Kala Bahlil Lahadalia Mengetuk Pintu Langit di Ponpes Azzainiyyah Sukabumi
Foto Istimewa: Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia Saat Memberikan Sambutan di Ponpes Azzainiyyah Nagrog, Kecamatan/ Kabupaten Sukabumi, Minggu (8/3/2026).

PenaKu.ID – Aroma tanah basah dan lantunan selawat yang samar terdengar dari kejauhan menyambut senja di kaki Gunung Gede Pangrango, Di saat para santri bersiap menjemput azan Magrib, keheningan Nagrog pecah oleh deru iring-iringan bus yang perlahan memasuki gerbang Pondok Pesantren Azzainiyyah. Tepat pukul 16.34 WIB, di antara sela-sela waktu mustajab menjelang berbuka, rombongan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar hadir membawa gairah baru di tengah kekhusyukan Ramadan, Minggu (8/3/2026).

Di bawah langit sore yang mulai meredup di kaki Gunung Gede Pangrango, deru mesin bus pariwisata memecah keheningan Nagrog, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tepat pukul 16.34 WIB, gerbang Pondok Pesantren Azzainiyyah bersolek menyambut kedatangan rombongan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar, Minggu (8/3/2026).

Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, melangkah turun didampingi jajaran elit partai, menanggalkan sejenak hiruk-pikuk politik ibu kota demi sebuah safari spiritual di tengah syahdu Ramadan 1447 Hijriah. Kehadiran orang nomor satu di partai berlogo beringin ini bukan sekadar kunjungan formal, melainkan sebuah laku takzim seorang pemimpin kepada episentrum keilmuan Islam di Sukabumi.

Langkah pertama Bahlil Lahadalia bersama jajarannya tertuju pada kompleks pemakaman pesantren. Di sana, mereka tertunduk khidmat melakukan takziah ke makam almarhum Pangersa Uwa (KH Zezen Zainal Abidin). Ritual ini menjadi simbol penghormatan tinggi sang politisi terhadap transmisi nilai dan jejak perjuangan ulama yang telah mengakar kuat di tanah Pasundan.

Apa yang DIlakukan Bahlil Lahadalia?

Usai menunaikan salat Ashar berjamaah, Bahlil Lahadalia bergerak menuju aula pertemuan untuk menyapa keluarga besar pesantren. Di hadapan ratusan santri yang menyimak dengan saksama, Bahlil Lahadalia membuka narasinya dengan sebuah pengakuan ideologis mengenai posisi strategis pesantren sebagai benteng terakhir menjaga kedaulatan Pancasila.

“Pesantren adalah akar sejarah bangsa yang sudah ada jauh sebelum republik ini berdiri. Sejak dahulu, rahim pesantrenlah yang melahirkan para syuhada dan pejuang. Di era 1950-an, saat ideologi komunis mencoba mengguncang fondasi negara, para ulama dan santri berdiri paling depan menjaga tegaknya Pancasila,” kata Bahlil dengan nada bertenaga.

Dalam pidato kebangsaannya, Bahlil Lahadalia yang juga didampingi sejumlah fungsionaris pusat, menyoroti pentingnya keadilan akses pendidikan bagi kaum sarungan. Ia menegaskan komitmen partainya untuk memastikan negara hadir secara inklusif di setiap sudut asrama pesantren.

“Kami di tingkat pusat sedang berjuang agar dana abadi pendidikan seperti LPDP tidak hanya menjadi hak eksklusif lulusan perguruan tinggi umum yang mentereng. Santri dari pelosok pun harus memiliki hak yang sama untuk menjemput mimpi. Belum tentu lulusan sekolah modern lebih unggul daripada kedalaman ilmu santri,” tegasnya yang langsung disambut riuh gema selawat dan tepuk tangan.

Kehadiran Bahlil Lahadalia membawa pesan keberpihakan yang nyata. Ia memaparkan bahwa sinergi antara pemerintah dan partai akan terus mendorong program-program kerakyatan, termasuk pemenuhan gizi santri sebagai langkah konkret mencetak generasi emas Indonesia dari balik dinding pesantren.

Bahlil Lahadalia Memberikan Motivasi

Menjelang akhir kunjungannya, Bahlil Lahadalia membedah sejarah hidupnya untuk memotivasi para santri. Ia menekankan bahwa jabatan tinggi yang ia emban hari ini adalah bukti nyata dari determinasi dan doa. Ia berkisah tentang asal-usulnya sebagai putra seorang guru dan ibu pembantu rumah tangga.

“Saya pernah berdiri di terminal sebagai kondektur, pernah menjajakan kue untuk bertahan hidup. Jadi, jangan pernah biarkan keterbatasan ekonomi memadamkan api cita-cita kalian,” kenangnya di hadapan para santri yang tampak terinspirasi.

Menurut Bahlil, peta persaingan global saat ini tidak lagi memandang siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang paling tangkas. 

“Masa depan adalah milik mereka yang cepat beradaptasi. Santri harus menjadi motor penggerak yang mampu mengalahkan kelambanan dengan akselerasi ilmu dan iman,” pungkasnya.

Kunjungan maraton di Azzainiyyah ini sekaligus memberikan sinyal politik yang jernih. Bahlil menegaskan bahwa di bawah kepemimpinannya, Partai Golkar akan tetap menjadi rumah besar yang inklusif bagi seluruh elemen bangsa, merangkul kearifan lokal tanpa sekat suku maupun agama.

Safari Ramadan ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh para kiai untuk kemaslahatan bangsa. Bagi masyarakat Sukabumi, kehadiran Bahlil dan jajaran petinggi partai ini bukan sekadar seremoni politik, melainkan sebuah penegasan bahwa di antara dialektika kekuasaan dan spiritualitas, selalu ada ruang untuk duduk bersimpuh demi masa depan santri yang lebih cerah.**