PenaKu.ID – Fenomena astronomi berupa gerhana matahari cincin dipastikan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, atau beberapa hari menjelang awal Ramadan 1447 Hijriah. Peristiwa ini menjadi sorotan karena tergolong langka dan menghadirkan tampilan visual khas berupa lingkaran cahaya yang menyerupai “cincin api” di langit.
Melansir sejumlah sumber menyebutkan, gerhana matahari cincin terjadi saat Bulan berada di antara Matahari dan Bumi, namun berada pada jarak yang relatif lebih jauh. Kondisi tersebut membuat Bulan tidak sepenuhnya menutupi piringan Matahari, sehingga bagian tepinya tetap terlihat sebagai lingkaran cahaya terang yang mengelilingi Bulan.
Berdasarkan perhitungan astronomi, puncak gerhana diperkirakan terjadi sekitar pukul 19.12 WIB, dengan fase cincin berlangsung selama sekitar dua menit. Meski fase puncak terbilang singkat, rangkaian gerhana—mulai dari fase awal hingga berakhir—akan berlangsung selama beberapa jam.
Namun, fenomena ini tidak dapat disaksikan dari wilayah Indonesia. Jalur utama gerhana matahari cincin pada Februari 2026 melintasi Samudra Selatan hingga kawasan Antartika. Dengan demikian, pengamatan secara sempurna hanya dapat dilakukan dari wilayah tersebut, sementara sebagian daerah di belahan Bumi selatan berpeluang melihat gerhana sebagian.
Gerhana Matahari Cincin Tak Terlihat di Indonesia
Kendati tidak terlihat langsung dari Tanah Air, peristiwa ini tetap memiliki nilai ilmiah dan edukatif. Gerhana matahari cincin merupakan bagian dari kalender astronomi global dan kerap dimanfaatkan untuk meningkatkan pemahaman publik mengenai pergerakan benda langit serta dinamika Tata Surya.
Waktu kejadiannya yang berdekatan dengan awal Ramadan juga menarik perhatian masyarakat. Secara astronomi, awal bulan dalam kalender Hijriah memang berkaitan dengan fase bulan baru. Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa gerhana matahari tidak berbahaya dan tidak menimbulkan dampak langsung terhadap kondisi Bumi maupun aktivitas manusia.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah jalur pengamatan, para pengamat mengingatkan agar tidak melihat Matahari secara langsung tanpa pelindung. Pengamatan gerhana harus menggunakan kacamata khusus berfilter standar internasional atau dilakukan dengan metode tidak langsung guna mencegah kerusakan mata.
Setelah peristiwa ini, Indonesia diperkirakan baru akan kembali dilintasi jalur gerhana matahari pada 2031. Sementara itu, masyarakat tetap dapat mengikuti gerhana matahari cincin Februari 2026 melalui siaran langsung yang disediakan lembaga astronomi internasional dan berbagai observatorium dunia.** (tds)







